Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perajin rotan Cirebon siap genjot produksi

BANDUNG: Pengusaha rotan di Cirebon, Jawa Barat, optimistis penjualan produk rotan lokal meningkat hingga 300% jika larangan ekspor bahan baku rotan oleh pemerintah telah final.Ketua  Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Sentra
News Editor
News Editor - Bisnis.com 10 November 2011  |  16:12 WIB

BANDUNG: Pengusaha rotan di Cirebon, Jawa Barat, optimistis penjualan produk rotan lokal meningkat hingga 300% jika larangan ekspor bahan baku rotan oleh pemerintah telah final.Ketua  Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Sentra Cirebon Sumartja mengatakan tidak butuh waktu lama untuk meningkatkan penjualan tersebut karena pasar baru di kawasan a.l Eropa Timur, Afrika, dan Asia sudah menunggu produk-produk rotan khas Cirebon.“Kami percaya kenaikannya pasti pesat memang tidak langsung pasti memakan waktu untuk pembeli berganti pasar, namun itu hanya sebentar sekitar satu tahun saja,” katanya kepada Bisnis hari ini.Dia memaparkan pada kondisi stabil pengusaha rotan Cirebon dapat mengirim sebanyak 3.000 kontainer produk rotan setiap bulan ke pasar Eropa Barat, Amerika, dan Jepang. 95% produk rotan memang ditujukan untuk pasar luar negeri bukan domestik.“Karena masyarakat kita masih menganggap produk rotan adalah barang kelas rendah tapi pasar luar sangat menghargai produk rotan,” katanyaPengusaha rotan Cirebon selama ini harus bersaing dengan pengusaha yang berasal dari China dan Vietnam. Menurutnya, industri rotan China dapat kuat karena pemerintahnya fokus pada industri yang padat kaya.“Saya rasa langkah pemerintah sekarang melarang ekspor bahan baku sudah sangat tepat. Kalau tidak ada ekspor bahan baku otomatis ekspor produk akan meningkat dan pemerintah akan banyak mendapat keuntungan,” katanya.Selain dapat menambah devisa negara, tambahnya, penyerapan tenaga kerja melalui industri rotan ini cukup besar.Dia menyebutkan pada era 1990-an saja, ungkapnya, terdapat sekitar 600.000 orang di Cirebon yang bergantung pada industri ini. Satu kontainer setidaknya membutuhkan 60 orang tenaga kerja.Namun, semenjak keran ekspor bahan baku dibuka kembali pada 2005 lalu, industri rotan Cirebon langsung anjlok yang mengakibatkan banyak masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya.“Waktu itu industri langsung anjlok karena kesulitan bahan baku, dari yang biasa 3.000 kontainer per bulan jadi 700 kontainer saja. Kami tidak bisa memenuhi permintaan pasar karena bahan baku yang langka,” katanya.Sentra produk rotan di Cirebon menggunakan sekitar 630 jenis rotan yang berasal dari Sulawesi dan Sumatera. Para pengusaha sedikitnya membutuhkan 9.000 ton bahan baku rotan dalam sebulan.Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Ferry Sofwan mengemukakan, kebijakan tersebut harus didukung oleh pelaku usaha dengan cara inovasi desain.Selama ini perajin hanya memproduksi barang sesuai dengan pesanan, namun penjuakan di luar itu sering kali dilupakan.“Kalau memang mau memaksimalkan bahan baku yang berlimpah desain harus dikembangkan sehingga bisa ditawarkan untuk membuka pasar yang baru,” jelasnya.Perajin juga diminta untuk jeli memanfaatkan tren yang tenngah terjadi baik di pasar lokal maupun komoditas ekspor di Negara-negara yang selama ini belum tersentuh.Inovasi desain tersebut nantiny akan berpengaruh kepada tingkat kebutuhan bahan baku dan jenis serta kriteria bahan yang akan digunakan.Dia mencontohkan, jangan sampai perajin salah kaprah dengan membuat produk menggunakan rotan berukuran besar padahal pasar di Negara tersebut lebih condong pada variasi rotan berukuran kecil dengan bahan pendukung lainnya.Melimpahnya bahan baku setelah penghentian ekspor, lanjutnya, memungkinkan untuk menumbuhkan pelaku usaha baru, sehingga pembukaan pasar baru mutlak dilakukan.“Jangan hanya memikirkan untuk menjual produk ke luar negeri walupun memang keuntungan yang didapat bisa berlipat ganda. Tetapi pasar local juga pada dasarnya sangat menjanjikan, hanya selama ini kurang digarap secara serius,” jelasnya.Ferry menerangkan, untuk mendukung penggenjotan produksi oleh perajin harus adanya sinergitas di antara pemerintah di semua lapisan, pelaku usaha, serta perajin.Dengan demikian, nantinya tugas masing-masing instansi menjadi lebih jelas dan pada akhirnya menguntungkan perajin.Idealnya pemerintah menggandeng pihak swasta untuk mengakomodir penumpukan bahan baku dan mengolahnya menjadi bahan setengah jadi sebelum dilempar ke perajin. (K29/K6/Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Dinda Wulandari & Irvan Christianto

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top