Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor timah batangan dihentikan

Sungai Liat, BANGKA: Mulai 1 Oktober, ekspor timah batangan dihentikan untuk sementara hingga harga timah mencapai level wajar yaitu sebesar US$23.000 per metrik ton.Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam rapat antara Gubernur Bangka Belitung, eksportir,
Hilman Hidayat
Hilman Hidayat - Bisnis.com 27 September 2011  |  18:07 WIB

Sungai Liat, BANGKA: Mulai 1 Oktober, ekspor timah batangan dihentikan untuk sementara hingga harga timah mencapai level wajar yaitu sebesar US$23.000 per metrik ton.Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam rapat antara Gubernur Bangka Belitung, eksportir, dan semua stakeholder terkait, termasuk PT Timah Tbk, sebagai langkah konkrit menghadapi tekanan harga timah saat ini.Rudi Irawan, Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Timah, mengatakan penundaan ekspor timah batangan itu merupakan strategi jangka pendek yang disepakati bersama untuk menyikapi penurunan harga timah di pasar internasional.Harga komoditas tersebut, lanjutnya, tertekan ke level US$20.000 per metrik ton karena pengaruh permainan harga di pasar internasional.“Jadi mulai 1 Oktober, seluruh eksportir hentikan ekspor. Itu strategi jangka pendek yang solid dalam mengatasi permainan pasar,” ujar Rudi kepada Bisnis melalui sambungan telepon, hari ini.Dia mengatakan penghentian ekspor tersebut berlaku untuk timah yang diperdagangkan di spot market. Adapun untuk eksportir yang telah memiliki kontrak langsung ke pengguna akhir (end user), ekspor masih diperbolehkan.“Karena yang bikin kacau itu adalah timah yang diperdagangkan di spot market. Yang diperdagangkan di pasar itu cukup besar yakni 40% dari total ekspor kita,” tegasnya.Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, volume ekspor timah batangan terus mengalami penurunan dalam dua bulan terakhir. Harga timah yang cenderung melemah diperkirakan menyebabkan eksportir menahan ekspornya sehingga menyebabkan volume komoditas tersebut terus menurun.Volume ekspor timah pada Agustus tercatat menurun 8,12% menjadi 8.559,61 ton. Pada bulan sebelumnya, realisasi volume ekspor timah sebesar 9.316,2 ton.Penurunan volume ekspor tersebut juga berdampak pada kinerja nilai ekspor timah batangan. Data menunjukkan, nilai ekspor timah batangan pada Agustus hanya sebesar US$197,7 juta.Apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, nilai ekspor timah tersebut mengalami penurunan 11,4%. Pada Juli, nilai ekspor sempat mencapai US$223,2 juta.Rudi mengungkapkan kesepakatan tersebut selanjutnya akan ditetapkan dalam bentuk kebijakan Gubernur Bangka Belitung. “Apabila sudah dirumuskan secara baku, kesepakatan ini akan didorong menjadikeputusan bersama antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian ESDM,” jelasnya.Rudi mengatakan selain strategi jangka pendek, telah dihasilkan pula beberapa strategi jangka panjang di antaranya pembentukan pasar timah Indonesia yang dimotori oleh PT Timah.Melalui bursa timah di dalam negeri sendiri, diharapkan Indonesia dapat menguasai pasar sehingga tidak dipermainkan oleh pasar internasional.Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Eddy Putra Irawadi mengungkapkan sebagai eksportir terbesar, Indonesia ternyata tidak mampu memegang kendali atas perdagangan timah dunia.

Salah satu faktor yang memengaruhi, menurut Eddy, adalah dibukanya keran ekspor seluas-luasnya tanpa ada pengawasan yang ketat.“Untuk itu harus ada standar untuk mengawasi ekspor. SNI [Standar Nasional Indonesia] harus dievaluasi kembali untuk komoditas ini karena yang kita inginkan nilai tambah dan perdagangan timah dikuasai oleh negara kita,” ujarnya.Eddy mencontohkan pengawasan mutu bokar pada karet yakni SIR (Standard Indonesian Rubber). “Kita bisa menggunakan standar persis seperti pada karet untuk mengawasi ekspor.”Dia mengatakan melalui pengawasan ekspor tersebut, produksi timah dapat diarahkan untuk mendorong industri hilir berbasis timah di dalam negeri. Hal tersebut, lanjutnya, akan berdampak positif pada kontrol harga timah di pasar dunia.“Kita menguasai pasar. Kenapa ketika harga turun, kita bisa kontrol? Kuncinya adalah di pengawasan ekspornya.” (Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top