Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Food Estate tidak akan menggeser petani

BULUNGAN, Kaltim: Pengembangan kawasan pangan skala luas secara terpadu atau disebut food estate di Bulungan, Kaltim dengan luas lahan sekitar 30.000 hektare tidak akan menggeser petani untuk menjadi buruh, tetapi akan dibuat pola kemitraan inti-plasma
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 26 September 2011  |  12:53 WIB

BULUNGAN, Kaltim: Pengembangan kawasan pangan skala luas secara terpadu atau disebut food estate di Bulungan, Kaltim dengan luas lahan sekitar 30.000 hektare tidak akan menggeser petani untuk menjadi buruh, tetapi akan dibuat pola kemitraan inti-plasma dengan investor.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan food estate Delta Kayan agar tidak disalahartikan seolah-olah petani akan menjadi buruh dan pengusaha yang akan menguasai lahan tersebut."Petani tetap akan menjadi mitra, melalui pola inti-plasma. Petani tetap mengelola lahan. Namun, dengan skala lahan pertanian yang luas dengan intensifikasi sehingga produktivitas bisa dinaikkan," ujarnya seusai launching food estate Delta Kayan di Bulungan, Kaltim, hari ini.Melalui food estate itu, kata dia, maka diharapkan ada penambahan lahan untuk tanaman pangan.Secara nasional, lanjutnya, sudah ada program food estate di Merauke Papua. Namun, food estate di Merauke itu, menurut Mentan Suswono, masih terkendala lahan dan infrastruktur. Oleh karena itu, food estate akan dimulai dari mana saja yang memungkinkan untuk dikembangkan.Dia menegaskan food estate itu tidak akan mendistorsi harga produk petani. Sementara itu, jika produk pangan di dalam negeri, kata dia, akan diekspor, mengingat kondisi pangan global sudah mulai kekurangan. "Jadi, berapapun jumlah pangan, pasti akan laku di pasar."Suswono mencontohkan impor beras yang dilakukan Bulog, karena BUMN pangan itu tidak dapat menyerap beras petani secara maksimal. Menurut dia, Bulog harus memiliki stok beras pada akhir tahun sekitar 1,5-2 juta ton, sehingga terpaksa Bulog harus impor beras. Namun, pemerintah mengharapkan Bulog mengutamakan pengadaan dari dalam negeri. "Pengadaan dari dalam negeri harus dioptimalkan."Ditambah presiden telah mengeluarkan Inpres No. 8/2011 agar Bulog diperbolehkan membeli beras dengan harga berapa pun sesuai dengan referensi harga dari Badan Pusat Statistik.Menurut dia, Bulog selama ini hanya mengandalkan mitra yang juga merupakan pedagang, sehingga ketika harga di pasar lebih tinggi dibandingkan dengan harga Bulog, maka mitra tersebut memilih menjual beras ke pasar.Untuk mengantisipasi hal itu, kata dia, maka Bulog dapat bekerja sama dengan gabungan kelompok tani (gapoktan). "Jadi, walaupun Bulog impor beras, harus tetap membeli beras dari dalam negeri.Kementan, menurut dia, berkonsentrasi dalam peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas yang dapat dilakukan melalui penggunaan teknologi dan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SLPTT). BUMN sektor pangan yang sudah siap, kata dia, akan diminta untuk ikut mengembangkan food estate.Potensi food estate lainnya dapat dikembangkan di Kalimantan Barat dengan luas lahan sekitar 50.000 ha. Dia memperkirakan food estate di Kalbar dapat dilaksanakan mulai tahun ini.Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur, menurut Mentan telah mengalokasikan 200.000 ha untuk pangan. Hal itu, kata dia, untuk mendukung target pemerintah surplus beras 10 juta ton pada 2014.(api)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top