Syarat ruwet, UKM enggan masuk supermarket modern

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 25 September 2011  |  15:14 WIB

 

SURABAYA: Kalangan produsen penganan dan kue tradisional skala kecil di Kediri, Jawa Timur terbentur syarat rumit untuk memasarkan produknya di swalayan berjaringan nasional.
 
Kondisi tersebut menjadikan produsen penganan memilih swalayan lokal dan toko konvensional, di tengah besarnya peluang pasar penganan khas untuk oleh-oleh.
 
Chotifah Sumampouw, produsen madumongso asal Desa Jarak, Plosoklaten, Kediri mengaku persyaratan yang ditetapkan pihak swalayan berjaringan nasional cukup memberatkan pemasok komoditas. 
 
“Kami diwajibkan membayar sewa tempat terlebih dulu, selain dikenakan biaya promosi dan pembayarannya lama dengan cek mundur. Pola begini cukup rumit  dan memberatkan produsen skala kecil seperti kami,” ujarnya kepada Bisnis hari ini.
 
Karena itu, lanjut Chotifah, dia lebih memilih swalayan lokal dan toko konvensional yang menyediakan aneka penganan tradisional untuk oleh-oleh di Kediri dan kota-kota sekitarnya. 
 
Pola yang ditetapkan swalayan lokal dan toko konvensional cukup ringan, meskipun pembayarannya sesudah pengiriman produk sebanyak tiga kali. Untuk itu, produsen penganan harus memiliki modal kerja rangkap.
 
“Guna memperlancar kegiatan usaha, kami mengakses dana lunak dari BUMN dan memperoleh pinjaman Rp15 juta dari PT Perkebunan Nusantara XII melalui rekomendasi dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kediri,” tutur Chotifah yang memproduksi madumongso sejak 1997 dan mempekerjakan 14 orang.
 
Edy Tri Yuliana, produsen madu lebah asal Desa Sekoto, Badas, Kediri, juga enggan memasok produk madu dan bee pollen ke supermarket berjaringan nasional karena pembayarannya lama dan urusannya ruwet. (arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Adam A. Chevny

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top