Program low cost and green car

JAKARTA: Perlu kemauan politik (political will) dari pemerintah untuk mendukung realisasi program pengembangan dan produksi mobil harga terjangkau dan ramah lingkungan (low cost and green car) di Tanah Air.
manda
manda - Bisnis.com 14 Desember 2010  |  07:07 WIB

JAKARTA: Perlu kemauan politik (political will) dari pemerintah untuk mendukung realisasi program pengembangan dan produksi mobil harga terjangkau dan ramah lingkungan (low cost and green car) di Tanah Air.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berniat mengembangkan program low cost and green car di dalam negeri dan insentif terkait produksi mobil jenis ini tengah disiapkan oleh pemerintah. Proposal mengenai pengembangan dan produksi kendaraan ini dijanjikan pemerintah untuk dikeluarkan pada akhir tahun ini.

Ya dibutuhkan itu [kemauan politik]. Sekarang ini pabrikan berlomba-lomba untuk wacana eco car ini, kenapa tidak memilih Thailand? Karena pertimbangan stabilitas politik, tenaga kerja dan lainnya. Sekarang kembali ke positioning Indonesia untuk merebut momentum, ini sekarang pekerjaan kita, pemerintah untuk menarik potensi investasi, kata Subronto Laras, Komisaris Utama Indomobil Group kepada Bisnis, hari ini.

Menurut Subronto, untuk mendukung masuknya investasi dalam program low cost and green car ini, pemerintah diminta menciptakan situasi atau kebijakan-kebijakan yang favourable sehingga menarik investor masuk. Diperlukan koordinasi yang kuat antar kementerian melalui kebijakan yang kondusif yang memungkinkan terciptanya produksi kendaraan jenis low cost and green car, misalnya emisi control dan standar konsumsi bahan bakar yang jelas hingga kebijakan perpajakan, lingkungan hidup dan management lalu lintas.

Seperti di Kemenperin yang membuat peraturan eco car, harus jelas misalnya emisi gas buang mau menggunakan Euro2, Euro3 atau Euro4, kalau Euro4 butuh investasi baru. Lalu konsumsi bahan bakar, apakah 22 km per liter atau 20 km atau bahkan 18 km per liter. Itu harus diputuskan, paparnya.

Tidak hanya dari Kemenperin, tegas Subronto, program ini pun membutuhkan dukungan dari kementerian lain, yakni Kementerian Keuangan untuk penyikapan fiskal, Kementerian Lingkungan Hidup untuk standar emisi gas buang dan Kementerian Perhubungan terkait masalah traffic management yang harus dibenahi.

Ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kita punya momentum untuk merebut investasi dan menguasai pasar. Selain itu, masalah logistik yang biaya tinggi juga harus dibenahi, jelasnya.

Menteri Perindustrian M.S Hidayat sebelumnya mengatakan pihaknya akan memfasilitasi pengembangan kendaraan yang hemat energi dan ramah lingkungan serta dengan harga terjangkau. Untuk mendorong hal tersebut, kata Hidayat, pemerintah akan memfasilitasi pemberian insentif fiskal, pembebasan penjualan atas barang mewah (PPnBM) dan pembebasan bea masuk barang modal, bahan baku dan komponen yang dibutuhkan untuk produksi dalam negeri.

Saya sudah bertemu dengan semua produsen otomotif, sudah berbicara mendalam agar ada pendalaman industri dan mengajak untuk mengalihkan industrial base mereka di Indonesia. Untuk produk mobil nasional ini, harga mobil dibawah Rp100 juta, memiliki konsumsi bahan bakar 22 km per liter. Harapannya terwujud setelah sekian lama kita menjadi industri perakitan, tegas Hidayat.

Setidaknya tiga produsen otomotif, yaitu Daihatsu, Suzuki dan Hyundai telah menyatakan minat untuk menggarap program low cost and green car di Indonesia.

Terkait harga jual produk kendaraan ramah lingkungan dan harga terjangkau ini, Subronto menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat diputuskan hanya oleh Menperin, tetapi membutuhkan dukungan insentif perpajakan dari Kementerian Keuangan.

Hidayat harus berjuang untuk mendapatkan dukungan dari Menteri Keuangan. Harga mobil itu, sekitar 30%-40% merupakan komponen pajak yang masuk ke penerimaan negara. Misalnya harga mobil Rp120 juta, Rp40 juta diantaranya adalah komponen pajak. Kalau tidak ada kemudahan pajak, tentu tidak akan bisa, tukasnya.

Di sisi lain, Subronto menegaskan rencana pemerintah untuk membatasi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi (premium) mulai tahun depan, saat ini membuat bingung pabrikan yang tengah mempersiapkan rencana desain dan produksi low cost and green car.

Bingung, orang lagi mempersiapkan mobil low cost and green car. Mau pakai bahan bakar apa? Pertamax atau premium? Ini sangat berpengaruh pada konstruksi engineering mesin, karena Pertamax itu oktan tinggi yang ujungnya ke biaya produksi. Sekarang ini orang membeli Premium karena murah, tegas Subronto.

Lebih lanjut, Subronto mengakui belun dapat memastikan apakah ke depan bakal terjadi ledakan pasar mobil murah di Indonesia, apabila program low cost and green car ini benar-benar teralisasi.

Ini masih tanda tanya, rasanya masih ada kebutuhan akan mobil berkapasitas penumpang banyak atau mobil keluarga. Tetapi kembali lagi, penting bagi pemerintah untuk membuat situasi yang favorable, kebijakan yang kondusif baik dari pusat dan pemerintah daerah, tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top