Bisnis.com, JAKARTA - Vietnam berencana untuk mengirim pejabat tinggi dan delegasi bisnis lainnya ke Amerika Serikat (AS) akhir pekan ini. Langkah tersebut merupakan upaya di balik layar untuk menghadapi penerapan tarif timbal balik oleh Presiden AS Donald Trump.
Melansir sebuah agenda yang dikutip Bloomberg pada Rabu (2/4/2025), Wakil Perdana Menteri Vietnam Ho Duc Phoc didampingi oleh para eksekutif dari berbagai perusahaan termasuk Vietnam Airlines JSC, Vietjet Aviation JSC, dan VinaCapital Group Ltd., akan menghadiri pertemuan bisnis di New York.
Perjalanan Wakil Perdana Menteri yang direncanakan sebelum hari pengumuman tarif Trump, dapat berubah setelah detail pungutan muncul.
Kedua maskapai penerbangan tersebut diharapkan akan bertemu dengan pejabat dari Boeing Co. dan beberapa bank AS, menurut orang-orang yang mengetahui rencana tersebut, dengan Phoc juga akan mengunjungi Washington D.C.
Vietnam telah mengambil langkah-langkah untuk meyakinkan AS bahwa mereka serius dalam mengurangi surplus perdagangannya, yang mencapai US$123,5 miliar tahun lalu, kesenjangan tertinggi ketiga bagi AS, di belakang China dan Meksiko.
Trump akan mengumumkan rencana tarifnya setelah penutupan pasar AS pada Rabu waktu setempat, meskipun pembicaraan di balik layar tentang ukuran dan cakupannya telah berlangsung, kata orang-orang yang mengetahui diskusi tersebut.
Baca Juga
Vietnam telah mencoba memenangkan hati pemerintah AS, dengan memangkas pungutan impor pada berbagai produk, termasuk gas alam cair, mobil, dan produk pertanian. Negara tersebut juga memberikan akses Starlink milik Elon Musk ke negara tersebut, dan telah berulang kali berjanji untuk membeli lebih banyak barang dari AS.
Vietnam merupakan salah satu negara yang paling bergantung pada perdagangan di dunia, dengan ekspor yang setara dengan sekitar 90% dari output ekonomi, dan menganggap AS sebagai pelanggan terpentingnya.
Penjualan telah melonjak sejak perang dagang yang meletus selama masa jabatan pertama Trump, ketika bisnis berusaha pindah dari China dan Vietnam menjadi basis alternatif untuk produksi yang ditujukan ke pasar Amerika.
Salah satu masalah utama bagi AS adalah kekhawatiran pengalihan rute dari China, dengan perusahaan-perusahaan mendirikan toko di seberang perbatasan untuk menghindari tarif. Vietnam menyalip Jepang sebagai tujuan ekspor terbesar ketiga China untuk pertama kalinya pada 2024.
Negara Asia Tenggara itu mengumumkan kesepakatan sementara dengan perusahaan-perusahaan AS senilai US$4,15 miliar selama kunjungan menteri perdagangan ke AS bulan lalu, dan mengatakan sedang mempertimbangkan untuk menghapus hambatan perdagangan dan menindak penipuan ekspor.
Selama perjalanan itu, Perwakilan Dagang AS atau US Trade Representative (USTR) Jamieson Greer mengatakan, Vietnam perlu meningkatkan neraca perdagangan antara kedua negara dan lebih membuka pasarnya.
Vietnam Airlines menandatangani komitmen senilai US$10 miliar untuk membeli 50 pesawat Boeing Co. 737 Max pada tahun 2023 tetapi belum menyelesaikan pesanan tersebut. Vietjet mengonfirmasi kesepakatan untuk 200 jet Boeing pada tahun 2022, dan akan menerima 14 pesawat pertama tahun ini.
Laporan hambatan perdagangan luar negeri USTR tertanggal 31 Maret mencantumkan larangan dan pembatasan impor, hambatan bea cukai dan fasilitasi perdagangan, serta hambatan teknis dan sanitasi di antara rintangan utama bagi Vietnam.
"Meskipun bahasa untuk Vietnam dalam laporan tersebut relatif moderat terkait tarif, perhatian utama kami tetap terfokus pada hambatan non-tarif," tulis Pham Luu Hung, kepala ekonom di SSI Securities Corp., dalam sebuah catatan.
Berdasarkan penilaiannya, SSI Securities mengantisipasi bahwa tingkat tarif timbal balik untuk Vietnam akan berada di kisaran 10%, yang menempatkannya pada kisaran terendah.