Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Asean Lebih Rentan Terdampak Tarif Timbal Balik AS yang Siap Dirilis Trump

Kebijakan bea masuk atau tarif impor tinggi yang menandai perang dagang 'jilid II' itu diyakini akan berdampak ke Asean, termasuk Vietnam dan Indonesia.
Presiden AS Donald Trump saat acara Penandatanganan Perintah Eksekutif untuk menutup Departemen Pendidikan di Ruang Timur, Gedung Putih, Washington D.C, Amerika Serikat pada Kamis (20/3/2025)/Reuters-Carlos Barria
Presiden AS Donald Trump saat acara Penandatanganan Perintah Eksekutif untuk menutup Departemen Pendidikan di Ruang Timur, Gedung Putih, Washington D.C, Amerika Serikat pada Kamis (20/3/2025)/Reuters-Carlos Barria

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap memberlakukan kebijakan tarif timbal balik untuk semua negara terhitung mulai hari ini, Rabu (2/4/2025). 

Kebijakan bea masuk atau tarif impor tinggi yang menandai perang dagang 'jilid II' itu diyakini akan berdampak kepada sederet negara di Asia Tenggara atau Asean, termasuk Vietnam dan Indonesia.

Kendati belum ada informasi terkini mengenai detail kebijakan tersebut, AS berencana mengenakan tarif besar-besaran kepada mitra global. Pungutan tersebut akan mulai berlaku bersamaan dengan tarif tambahan sebesar 25% untuk semua mobil yang diimpor ke AS dan bea masuk sebesar 25% untuk impor baja dan aluminium dari mitra global.

Hal itu lebih spesifik ketimbang narasi yang digaungkan Trump selama kampanye Pemilihan Presiden AS. Saat itu, Trump hanya berfokus pada penerapan tarif menyeluruh pada mitra dagang utama.

Usai dilantik pada 20 Januari 2025, Presiden AS dari Partai Republik itu mengadopsi pendekatan yang lebih spesifik dalam penetapan tarif. Hal itu terungkap dari memo resmi dari Gedung Putih AS pada 13 Februari 2025 berjudul ‘Perdagangan Timbal Balik dan Tarif’ (Reciprocal Trade and Tariff).

Memo tersebut merujuk pada ‘rencana adil dan timbal balik’ (fair and reciprocal plan) dan membahas lima kriteria utama. Pertama, tarif yang dikenakan pada produk-produk AS.

Kedua adalah pajak yang tidak adil, diskriminatif, atau ekstrateritorial yang dikenakan oleh mitra dagang kepada bisnis, pekerja, dan konsumen AS, termasuk pajak pertambahan nilai (PPN).

Ketiga, biaya bagi bisnis, pekerja, dan konsumen AS yang timbul dari hambatan nontarif, kemudian keempat, kebijakan dan praktik yang menyebabkan nilai tukar menyimpang dari nilai pasarnya, sehingga merugikan warga AS, terkait penekanan upah.

Kelima adalah praktik lain apa pun yang memberlakukan pembatasan tidak adil pada akses pasar atau hambatan struktural apa pun terhadap persaingan yang adil dengan ekonomi pasar AS.

Donald Trump, tampil dalam kampanye jelang Pilpres AS 2024 lalu/Dok-Bloomberg
Donald Trump, tampil dalam kampanye jelang Pilpres AS 2024 lalu/Dok-Bloomberg

Asean Lebih Rentan Terpapar Dampak Tarif Timbal Balik AS

Dalam laporan terbarunya, Maybank Research Pte. Ltd. menjelaskan bahwa skema tarif timbal balik dapat membuat negara-negara di Asia Tenggara lebih rentan terhadap kebijakan perdagangan yang ditetapkan Pemerintah AS.

Bila menggunakan penetapan tarif menyeluruh seperti yang disuarakan Trump selama kampanye, Vietnam akan menjadi negara Asean paling rentan terhadap tarif AS. Sebab, surplus perdagangan bilateralnya dengan AS besar yakni sekitar US$123 miliar pada 2024.

Kebijakan tarif timbal balik yang didasarkan pada lima area tersebut diyakini bakal membuat Indonesia, Filipina, dan Thailand lebih rentan terpapar impak kebijakan perdagangan Negeri Paman Sam.

“Tarif timbal balik akan mengubah peringkat relatif [negara] Asean dalam hal kerentanan terhadap tarif AS,” demikian laporan Maybank Research Pte. Ltd. bertajuk ‘Trade War: In the Cross-Fire’ yang dirilis, Jumat (21/3/2025).

Maybank Research memperkirakan Indonesia dan Filipina akan lebih rentan bila AS menetapkan kebijakan tarif timbal balik dengan mempertimbangkan kriteria pertama dan kedua yakni tarif yang dikenakan pada impor AS ditambah PPN. 

“Kami memperkirakan bahwa Indonesia (16,2%) dan Filipina (15,3%) akan lebih rentan, sementara Malaysia (9,1%) dan Singapura (9%) akan kurang rentan.”

Terkait kriteria keempat, Maybank Research memperkirakan Vietnam dan Singapura akan paling terdampak. Pasalnya, kedua negara tersebut saat ini berada dalam daftar pantauan manipulasi mata uang Departemen Keuangan AS.

Defisit Perdagangan AS & Persentase terhadap PDB (2023)

 dari PDB)
-24%
Vietnam
-8%
Thailand
-7%
Malaysia
-1%
Indonesia
Sumber: US Census Bureau, Maybank IBG Research

Sementara itu, OCBC Investment Research sebelumnya memperkirakan bahwa Vietnam masih menjadi negara Asia Tenggara yang paling rentan terpapar tarif sektoral diferensial yang ditetapkan Pemerintah AS. Selanjutnya adalah Thailand.

“Paparan Indonesia terbatas pada sektor produk makanan dan alas kaki. Paparan Malaysia khusus untuk sektor plastik dan karet,” jelas Lavanya Venkateswaran, Senior Asean Economist OCBC Investment Research, dalam Global Market Research yang dirilis pada 25 Februari 2025.

Menurutnya, Indonesia terbilang rentan terhadap kebijakan tarif timbal balik untuk sektor alas kaki, tekstil, dan pakaian jadi serta mesin. Untuk Malaysia adalah subsektor mesin dan elektronik.

Sementara untuk Thailand, sektor produk makanan, mesin dan elektronik, plastik dan karet dinilai dapat terekspos efek tarif AS. Adapun bagi sektor yang rentan di Vietnam adalah alas kaki dan mesin serta elektronik.

Sebelumnya, laporan Moody's Rating juga menyebutkan bahwa kebijakan tarif timbal balik yang disiapkan Trump akan memiliki dampak negatif dalam beragam tingkatan pada negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

"Jika diterapkan, kami memperkirakan tarif impor timbal balik akan melemahkan permintaan ekspor barang dari Asia Pasifik," dikutip dari laporan Moody's Rating, Jumat (28/2/2025).

Laporan itu juga menyoroti, ekonomi negara-negara di wilayah Asean umumnya memiliki eksposur yang signifikan di sektor komputer dan elektronik karena tingkat integrasi yang tinggi dengan rantai pasokan elektronik global.

Salah satunya adalah Vietnam yang mempunyai eksposur tertinggi di antara negara-negara Asia Pasifik terhadap permintaan akhir AS. Proyeksi dari OECD mencatat, nilai tambah domestik yang dihasilkan dari ekspornya ke AS menyumbang lebih dari 6% PDB domestik pada 2020.

Vietnam telah menjadi penerima manfaat terbesar dari hal ini strategi China+1, serta hambatan perdagangan yang diberlakukan Presiden Trump pada masa jabatan pertamanya, yang mendorong produsen untuk beralih produksi di luar China.

"Vietnam juga memiliki sektor re-ekspor yang signifikan, khususnya barang elektronik, yang merupakan produk dalam negeri negara tersebut paparan produksi terhadap permintaan AS kemungkinan akan lebih kecil dari perkiraan OECD," jelas laporan itu.

Malaysia & Singapura Berisiko Akibat Tarif Sektoral

Maybank Research juga menyoroti kebijakan perdagangan AS lainnya yang dapat memengaruhi negara-negara Asia Tenggara yakni tarif tinggi untuk semikonduktor dan farmasi.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa AS menetapkan tarif 25% untuk semikonduktor dan juga 25% untuk farmasi. Tarif tinggi itu akan berimpak pada Malaysia, Vietnam, Singapura selaku produsen semikonduktor, serta Singapura yang juga mengandalkan produk farmasi. 

Malaysia sendiri mengekspor lebih dari US$10 miliar semikonduktor ke AS. Nilai itu merupakan 3,3% dari total ekspor Malaysia. 

“Malaysia dan Singapura mungkin menghadapi gesekan dari kerangka kerja penyebaran AI, yang akan berlaku efektif pada bulan Mei.” 

Rasio Ekspor/Impor ke dan dari AS

11,6x
Vietnam
3,6x
Thailand
2,7x
Indonesia
2,4x
Malaysia
Sumber: US Census Bureau, Maybank IBG Research

Maybank Research berharap Asia Tenggara akan tetap berada di luar radar dan terhindar dari kebijakan tarif AS, setidaknya pada tahun pertama Trump menjabat. Namun, mereka meyakini bahwa kebijakan tarif AS yang relatif tinggi dapat memengaruhi manufaktur dan ekspor Asia Tenggara, terutama untuk produk semikonduktor, farmasi, dan segmen elektronik yang lebih luas. 

Di samping itu, laporan tersebut memperingatkan bahwa arus investasi asing ke Asean dapat kehilangan momentum bila perbedaan tarif AS terhadap negara-negara Asia Tenggara dan terhadap China menyempit.

“FDI [foreign direct investment] ke Asean dapat kehilangan momentum jika kesenjangan tarif AS antara Asean dan China menyempit secara signifikan dan perusahaan multinasional mengambil sikap yang lebih hati-hati terhadap investasi baru,” demikian tulis laporan tersebut.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper