Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonom Bank Danamon Ramal BI Rate Naik jadi 6,25%

BI Rate diprediksi akan naik menjadi 6,25% pada konferensi pers RDG BI, Rabu (24/4/2024).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) dan Deputi Gubernur Doni P. Joewono (kedua kiri) memberikan keterangan saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Rabu (21/2/2024). Bisnis/Arief Hermawan P
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) dan Deputi Gubernur Doni P. Joewono (kedua kiri) memberikan keterangan saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Rabu (21/2/2024). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate akan dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2024.

Untuk diketahui, BI akan mengumumkan hasil RDG pada siang ini, Rabu (24/4/2024) pukul 14.00 WIB yang disiarkan secara daring melalui Youtue resmi Bank Indonesia. 

Faiz mengatakan tekanan eksternal saat ini sulit membawa rupiah menguat jika BI tidak menaikkan suku bunga acuan. Apalagi, ketidakpastian masih tinggi karena konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian penurunan suku bunga di Amerika Serikat (AS).

“Cadangan devisa juga sudah turun banyak untuk intervensi. Menurut saya jika tidak diiringi kenaikan bunga, akan berat kedepannya untuk stabilisasi rupiah di kondisi global yang tidak pasti,” katanya kepada Bisnis, Selasa (23/4/2024).

Faiz menyampaikan pengetatan suku bunga setidaknya dapat memberi sinyal kepada investor asing bahwa aset domestik akan tetap menarik.

Menurutnya, jika BI Rate di tahan pada level 6%, ada potensi tekanan lebih lanjut jika eskalasi konflik terjadi lagi. Namun, jika suku bunga acuan ditahan, BI perlu meningkatkan tingkat imbal hasil atau yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan intervensi pasar obligasi dengan cukup signifikan.

“Tapi itu akan menimbulkan cost bagi BI dan pemerintah,” kata Faiz.

Dia menambahkan peluang penurunan suku bunga BI ke depan bergantung pada arah suku bunga kebijakan Federal Reserve atau The Fed. 

“Jika Fed menurunkan bunganya, maka BI bisa ikut menurunkan. Dengan inflasi AS yang masih tinggi, Fed diekspektasikan akan menunda pemangkasan hingga akhir tahun. Oleh karena itu, BI juga kemungkinan punya ruang [menurunkan suku bunga] pada akhir tahun,” tuturya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper