Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emisi Gas Rumah Kaca per Kapita RI Masuk 3 Terendah di Antara Negara G20

Emisi per kapita Indonesia dengan sebesar 2,6 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) tersebut juga berada di bawah rata-rata global di angka 4,8 ton CO2e.
Gas rumah kaca./Ilustrasi
Gas rumah kaca./Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Emisi gas rumah kaca (GRK) per kapita Indonesia tercatat dalam tiga terendah di antara negara-negara G20. Lebih rendah dari Inggris, Amerika Serikat (AS), hingga China. 

Hal tersebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sampaikan dalam Climate Change and Indonesia's Future: An Intergenerational Dialogue, Senin (27/11/2023). 

“Indonesia emisi per kapita terendah. Di antara G20, hanya di bawah India dan Brazil,” ujarnya. 

Bahkan, emisi per kapita Indonesia dengan nilai 2,6 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) tersebut juga berada di bawah rata-rata global di angka 4,8 ton CO2e. 

Untuk itu, Sri Mulyani menekankan bahwa pemerintah Indonesia mengincar kebijakan dekarbonisasi yang kuat untuk mencapai agenda Nationally Determined Contribution (NDC) dan Net Zero Emissions (NZE). 

“Hal ini termasuk menciptakan kerja sama dan diskusi yang produktif dengan seluruh dunia, menjembatani pasar negara maju dan negara berkembang untuk mencapai tujuan yang sama,” lanjutnya.

Dalam paparan Bendahara Negara tersebut, per 2022, tercatat India memiliki emisi per kapira paling rendah, yaitu sebesar 2 ton CO2e dan diikuti India sebesar 2,2 ton CO2e.

Sementara China memiliki emisi per kapita berada di posisi 8 ton CO2e, AS sebesar 15,1 ton CO2e, dan tertinggi, yakni Kanada dengan 18,7 ton CO2e.

Meski demikian, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa Indonesia belum dapat berlega hati, karena faktanya dalam meningkatkan produk domestik bruto (PDB) per kapita turut mengerek emisi per kapita.

Berdasarkan catatan Bank Dunia, lanjutnya, menunjukkan bahwa Indonesia setiap pendapatan per kapita naik empat kali lipar, emisi per kapita naik dua kali lipat. 

“Hal yang menjadi masalah adalah bagaimana meningkatkan pendapatan per kapita yang merupakan indikator yang menggambarkan kemakmuran masyarakat tanpa menimbulkan makin buruknya emisi per kapita, meskipun Indonesia emisi per kapitanya rendah,” tuturnya. 

Sri Mulyani menekankan bahwa instrumen keuangan pemerintah, dalam hal ini APBN, turut dialokasikan untuk isu perubahan iklim. Selain itu, Indonesia juga telah menerbitkan green bond dengan dasar sukuk atau syariah.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper