Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Bahan Pangan di Asia Tertinggi Sejak 2008, Gara-gara Beras!

HSBC Holdings Plc. mencatat harga bahan pangan di Asia mengalami peningkatan tertinggi sejak 2008.
Seorang wanita membersihkan butiran beras di pasar grosir di Navi Mumbai, India, 4 Agustus 2023. REUTERS/Francis Mascarenhas
Seorang wanita membersihkan butiran beras di pasar grosir di Navi Mumbai, India, 4 Agustus 2023. REUTERS/Francis Mascarenhas

Bisnis.com, JAKARTA – Kenaikan harga pangan meningkatkan kekhawatiran para gubernur bank sentral Asia yang tengah berupaya menurunkan laju inflasi, terutama yang diakibatkan oleh naiknya harga beras. HSBC Holdings Plc. mencatat harga bahan pokok di Asia mengalami peningkatan harga tertinggi sejak 2008.

"Ingatan akan ketakutan akan lonjakan harga pangan Asia pada tahun 2008 masih membekas," kata Ekonom HSBC Holdings Plc. yang dipimpin oleh Frederic Neumann melalui riset, yang dilansir melalui Bloomberg, Minggu (17/9/2023).

Neumann menyampaikan bahwa pada periode 2008, kenaikan harga beras di beberapa negara dengan cepat merembet ke pasar-pasar lain karena para konsumen dan pemerintah di seluruh wilayah berebut untuk mengamankan pasokan. 

“Kondisi ini mengangkat harga-harga bahan makanan pokok lainnya, seperti gandum, karena para pembeli beralih ke bahan makanan alternatif,” jelasnya.

Tercatat, harga ekspor beras dari Thailand, yang merupakan patokan global, melonjak menjadi lebih dari US$600 per ton atau naik hampir 50 persen dari tahun sebelumnya. 

Hal ini menjadi perhatian bagi para pembuat kebijakan karena beras tidak seperti tomat dan bawang, yang cenderung cepat kembali normal setelah lonjakan karena siklus panen yang pendek. Neumann mengatakan, harga beras cenderung bertahan lebih lama.

Dia mengatakan bahwa impor beras global telah meningkat sekitar dua kali lipat selama 25 tahun terakhir, dan naik sekitar 4 poin persentase sejak kenaikan harga pangan pada 2008. 

“Ini berarti bahwa gangguan di satu perekonomian dapat berdampak jauh lebih besar pada perekonomian lainnya dibandingkan di masa lalu," katanya.

Cuaca yang tidak menentu dan kekeringan di berbagai belahan dunia saat ini menghambat panen, mengurangi pasokan, dan memicu kenaikan harga. 

Eksportir beras terbesar di dunia, India, pun telah memberlakukan pembatasan pengiriman beras ke luar negeri untuk menekan harga di tingkat lokal, yang semakin membatasi pasokan global.

Neumann menambahkan, Malaysia dan Filipina merupakan dua negara Asia yang paling bergantung pada impor beras, diikuti oleh Korea Selatan dan Taiwan. Negara-negara Asean lainnya, seperti Indonesia juga terdampak.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper