Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Jokowi-Biden Kian Mesra Hingga Pensiun Dini PLTU

Ulasan tentang bagaimana hubungan Indonesia-AS yang kian mesra menjadi salah satu pilihan Bisnisindonesia.id, selain beragam kabar ekonomi dan bisnis lainnya.
Nurbaiti
Nurbaiti - Bisnis.com 15 November 2022  |  10:03 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: Jokowi-Biden Kian Mesra Hingga Pensiun Dini PLTU
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan pertemuan bilateral di sela-sela KTT G20 Bali, Senin (14/11 - 2022). Youtube Sekretariat Presiden RI.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah berjumpa di Kamboja, hubungan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden terlihat kian mesra. Dalam pertemuan di Bali, Senin (14/11/2022), kembali kesan cair dan bersahabat itu diperlihatkan oleh keduanya.

Merespons ucapan selamat datang dari Presiden Jokowi, Presiden Joe Biden sempat berseloroh dirinya tidak akan pulang ke AS. Biden menyebutkan dirinya senang Presiden Jokowi telah menjadi teman yang baik.

Di luar itu, Biden mengumumkan program kerja sama AS dan Indonesia dengan nilai mencapai hampir US$700 juta. Biden juga memaparkan bagaimana hubungan AS dan Indonesia sudah berjalan sejauh ini.

Ulasan tentang bagaimana hubungan Indonesia-AS yang kian mesra ini menjadi salah satu pilihan Bisnisindonesia.id, selain beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik tersaji dari meja redaksi Bisnisindonesia.id.

Berikut intisari dari top 5 News Bisnisindonesia.id yang menjadi pilihan editor, Selasa (15/11/2022):

 

1. Konflik Geopolitik Bisa Jegal Neraca Dagang RI di Akhir Tahun

Ketegangan geopolitik yang terjadi di antara kekuatan ekonomi dunia dan peperangan di Eropa Timur yang tak kunjung usai masih menjadi sumber kekhawatiran pelaku usaha terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Pengumuman neraca dagang Oktober yang akan diumumkan pada Selasa (15/11/2022) pagi akan menjadi gambaran prospek perdagangan di penghujung tahun dan awal 2023.

Invasi Rusia di Ukraina, perang tarif dan perang teknologi AS-China, hingga konflik geopolitik yang melibatkan Taiwan, membayang-bayangi pengusaha domestik yang khawatir kinerja ekspor akan melanjutkan pelemahannya setelah turun 11 persen pada September menjadi US$24,80 miliar.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mencermati, meningkatnya resesi global akan membuat neraca perdagangan Indonesia menyusut menjadi US$4,42 miliar dari US$4,99 miliar pada bulan sebelumnya.

 

2. Daya Pikat Indonesia di Mata Paman Sam

Dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden AS Joe Biden, Senin (14/11/2022), menghasilkan beragam kesepakatan baru untuk pengembangan ekonomi kedua negara, serta menjadi katalis positif bagi sederet rencana kerja sama lainnya yang pembahasannya telah dirintis.

Beberapa kesepakatan yang terjalin antara lain peningkatan investasi AS di Indonesia, pengembangan energi baru terbarukan (EBT), hingga dukungan pembangunan megaproyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Komitmen Negeri Paman Sam ini membuktikan bahwa Indonesia masih memiliki daya pikat yang kuat. Kondisi ini pun meningkatkan optimisme pemerintah mengenai teropong ekonomi nasional jangka panjang.

Terlebih, AS tercatat sebagai salah satu negara utama yang menjadi mitra dagang dan investor strategis di Tanah Air.

 

3. Kinerja Cemerlang Sumber Tani Agung (STAA) Kian Benderang

Kinerja cemerlang emiten perkebunan dan pengolahan sawit PT Sumber Tani Agung Resources Tbk. (STAA) kian benderang menjelang tutup tahun 2022 meskipun harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mengalami penurunan.

Emiten milik Crazy Rich Medan, Suwandi Widjaja ini mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada kuartal III/2022 meski kinerja ekspornya melemah.

Kinerja cemerlang STAA selama 9 bulan ini didukung oleh peningkatan porsi tandan buah segar (TBS) internal yang diproses perseroan dibandingkan dengan tahun lalu.

Selain itu, melalui praktik manajemen kebun yang lebih baik serta peningkatan efisiensi produksi berdampak pada peningkatan profitabilitas perseroan sepanjang tahun ini, meskipun harga CPO mengalami penurunan sebesar 35,5 persen dari posisi tertinggi pada kuartal I/2022.

 

4. Bagaimana jika Bank Gagal Penuhi Modal Inti dan jadi BPR?

Bank dengan modal inti di bawah Rp3 triliun kini tengah berjibaku melakukan penambahan modal agar tidak turun kasta menjadi bank perkreditan rakyat (BPR).

Aturan modal inti minimum sebesar Rp3 triliun hingga akhir 2022 telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 12/POJK.03/2022 tentang Konsolidasi Bank Umum.

Apabila tidak dapat memenuhi aturan tersebut, bank terancam merger secara paksa, self-liquidation atau likuidasi sukarela, hingga turun kasta menjadi BPR.

Alhasil, jika bank gagal memenuhi modal inti dan turun kasta menjadi BPR, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin memperkirakan hal itu akan melunturkan kepercayaan nasabah dan investor.

 

5. Pensiun Dini PLTU dan Keraguan Pendanaan Perbankan RI

Di tengah upaya pemerintah unjuk gigi transisi energi di hadapan anggota G20, perbankan komersial disebut-sebut masih ragu dalam mendanai pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam negeri.

Wakil Menteri BUMN I Pahala N. Mansury membeberkan perbankan serta pemberi pinjaman komersial masih ragu-ragu untuk mendanai program pensiun dini PLTU berbasis batu bara.

Bukan tanpa alasan, perbankan sedang berupaya menghindari portofolio fosil dalam pemberian pinjaman serta mulai memperbesar jumlah pembiayaan hijau.

Gembar-gembor suntik mati pembangkit batu bara terdengar memang cukup nyaring sebelum pertemuan 19 negara dan satu kawasan ekonomi Nusa Dua, Bali. Puncaknya PLTU Cirebon - 1 berkapasitas 660 megawatt (MW) ditetapkan sebagai pembangkit pertama yang bakal dipensiunkan lebih awal.

Suntik mati pembangkit berbahan baku fosil ini dilakukan melalui nota kesepahaman (MoU)  Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Kesepakatan ini juga diikuti oleh Indonesian Investment Authority (INA) dan pemilik PLTU Cirebon-1 yakni konsorsium Cirebon Electric Power (CEP).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Joe Biden KTT G20 pltu

Sumber : Bisnisindonesia.id

Editor : Nurbaiti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top