Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelajah BUMN 2022: Mencari Generasi Baru Perajin Pewter Pulau Timah

Karya seni berbahan timah 'Pewter' harus diperhatikan, sebab menjadi cerminan peradaban bangsa, apalagi di suatu negeri yang memiliki Pulau Timah di dalamnya.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 26 September 2022  |  18:55 WIB
Jelajah BUMN 2022: Mencari Generasi Baru Perajin Pewter Pulau Timah
Perajin Pewter Budi Pramono - Bisnis.com/Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, PALEMBANG - Timah bukan hanya menjadi nyawa bagi industri komponen, elektronika, dan pelapis baja. Karya seni dan kerajinan berbahan timah pun harus diperhatikan, sebab menjadi cerminan peradaban dan kebudayaan bangsa. Terlebih lagi di suatu negeri seperti Indonesia yang memiliki Pulau Timah di dalamnya.

Hal ini diungkap perajin pewter Budi Pramono dalam bincang-bincang santai bersama Tim Jelajah BUMN 2022 di pusat pameran produk UMKM seantero Bangka Belitung, Tins Gallery besutan emiten pertambangan PT Timah Tbk. (TINS), Minggu (25/9/2022) malam.

"Kita ketinggalan jauh dengan Thailand, juga Malaysia yang punya brand Selangor Pewter. Tak heran, mereka sudah mempelajari karya seni ini di kisaran 1885, sementara kita baru mulai sejak 1985. Ketinggalan 100 tahun. Padahal, kita ini salah satu negara penghasil timah terbesar di dunia," ujar pria yang telah berusia 66 tahun ini.

Secara umum, pewter awalnya merupakan kegiatan melebur dan menempa timah batangan menjadi peralatan makan-minum, seperti piring, sendok-garpu, mangkuk, cangkir dan teko teh, yang disebut telah ada sejak periode Zaman Perunggu. 

Berkembangnya peradaban manusia membawa pewter menjadi kesenian yang akhirnya bersifat dekoratif serta lebih artistik.

Termasuk, hasil karya pewter anak bangsa yang dipajang di Tins Gallery, yaitu berupa miniatur kapal, tank, souvenir berbentuk logo atau alat khas pesanan suatu entitas, piala, patung berbentuk tokoh, juga hiasan kaligrafi.

Budi sendiri sebenarnya pensiunan TINS sejak 2012 dari bagian peleburan, alias unit metalurgi di kawasan Muntok, Bangka Barat, Bangka Belitung. Ketika itu, seni kirya bernama pewter hanya dikenalnya sekelebat saja.

Namun, pada medio 90-an, TINS meminta Budi bersama beberapa karyawan yang dinilai punya jiwa seni untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka mempelajari kesenian pewter selama beberapa bulan, dengan instruktur dari Thailand.

Inilah awal mula Budi mulai bergiat menjadi pengasuh para UMKM pegiat dan perajin pewter. Sejak 1994, Budi bersama keluarga besar TINS pun terus menyuarakan kesenian ini. 

Mulai dari mengumpulkan warga yang kurang beruntung, sampai anak-anak putus sekolah untuk berkarya sembari belajar.

"Saat ini tim saya tinggal dari 7 orang. Salah satunya ada yang cacat kakinya, sejak bujangan ikut belajar dan ternyata punya kemampuan. Dia sampai sekarang masih aktif, punya tiga anak yang semuanya dibesarkan dari kesenian ini. Alhamdulillah, berarti jadi jalan rezeki buat dia," tambahnya.

Sayangnya, sampai saat ini Budi belum menemukan lagi para calon perajin pewter unggulan, yang mampu membuat karya seni tinggi dari bahan baku balok pewter dengan kandungan 97 persen timah putih, 2 persen logam antimoni, dan 1 persen logam tembaga itu.

Paduan Artistik dan Teknologi

Secara umum, para perajin pewter bertugas menyambungkan setiap cetakan pewter menjadi satu kesatuan. Namun, cara kerja yang mengombinasikan antara teknologi dengan seni visual yang baik, memang tak mudah dilakukan banyak orang.

Oleh sebab itu, Budi mengakui mencetak generasi perajin pewter baru memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Perkenalan dan pelatihan saja tak cukup. 

Menurutnya, calon perajin harus punya minat dan kesenangan dengan seni instalasi, kemudian memiliki kegigihan dan kerja keras.

Bagaimana tidak, sebab setiap perajin yang berlatih, apabila sambungan belum rapi atau tampak ada cacat, maka calon produk tersebut akan langsung dilebur lagi. Proses ini terus berulang sampai produk dianggap layak, rapi, dan punya nilai jual.

Tingkat kejelian, ketelitian dan keuletan yang tinggi, kata Budi, yang membuat rata-rata pengrajin pewter saat ini sudah menginjak usia 50 tahun, dan regenerasinya belum ada. 

“Karena memang butuh latihan paling tidak 3 tahun untuk menyambung-nyambung sampai bagus dan rapi. Ya, secara umum seperti orang yang belajar buat perhiasan emas," jelas Budi.

Selain itu, saat ini para perajin eksisting dalam naungan Budi memiliki kendala dari sisi desain, terutama untuk membuat cetakan pewter produk-produk pesanan yang rumit. 

Seperti patung berbentuk wajah dan badan spesifik atau benda-benda khas untuk menggambarkan produk dengan merek tertentu.

Oleh sebab itu, Budi biasanya memesan desain cetakan berbahan resin dari para seniman-seniman di kota besar, terutama Yogyakarta. 

Kemudian, Budi dan tim akan melapisi resin dengan silicon rubber alias karet tahan panas, sebagai wadah pencetak bahan-bahan pewter sebelum nantinya disambungkan.

Budi berharap generasi baru ke depan bisa menyaingi pewter Malaysia dan Thailand yang sudah terkenal di dunia, dan kita punya banyak desainer produk yang bagus. 

“Kami yakin, bahan dan kualitas pengerjaan kita bisa bersaing. Saya yakin PT Timah pun akan terus support dengan mengajak ke pameran, menyediakan bahan baku terbaik, serta terus memperkenalkan karya seni ini ke seluruh Indonesia," tutup Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jelajah BUMN pt timah tbk perajin Karya seni
Editor : Wahyu Arifin
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top