Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

ESDM dan Pertamina Bungkam Soal Impor Minyak Murah Rusia

Kementerian ESDM dan Pertamina enggan bicara banyak soal rencana Jokowi mengimpor minyak mentah murah dari Rusia.
Fasilitas produksi minyak Rusia di Vankorskoye, Siberia./Antara-Reuters
Fasilitas produksi minyak Rusia di Vankorskoye, Siberia./Antara-Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum berani terbuka terkait dengan pertimbangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk impor minyak mentah murah dari Rusia.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan dirinya tidak mengetahui perkembangan terkini ihwal posisi pemerintah untuk pengadaan minyak mentah dari Rusia tersebut.

“Itu saya tidak tahu terus terang saja kalau itu, terus terang kalau Rusia saya nggak ikut,” kata Tutuka saat dimintai konfirmasi selepas Rapat Panja Pembahasan RUU APBN 2023 di Banggar DPR, Jakarta, Senin (12/9/2022).

Selain Tutuka, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati juga enggan memberikan keterangan terkini menyusul sejumlah sinyal dari pemerintah untuk membeli minyak mentah diskon dari Rusia.

Seperti diketahui, Jokowi belakangan terlihat ingin bergabung dengan India dan China untuk membeli minyak Rusia sebagai upaya mengimbangi meningkatnya tekanan dari harga minyak dunia yang masih berlanjut saat ini.

"Semua opsi selalu kami pantau. Jika ada negara (dan) mereka memberikan harga yang lebih baik, tentu saja," kata Jokowi dalam wawancara dengan Financial Times, ketika ditanya apakah Indonesia akan membeli minyak dari Rusia, Senin (12/9/2022).

Sinyal itu pertama kali dikemukakan oleh Menparekraf Sandiaga Uno lewat akun instagram pribadinya pada Minggu (21/8/2022) lalu. Saat itu, Sandi mengatakan, pemerintah tengah berhitung untuk membuka peluang pembayaran impor minyak Rusia itu lewat Rubel.

Kendati demikian, Sandiaga mengatakan, sebagian pihak menilai negatif rencana impor minyak mentah tersebut dari Rusia. Alasannya, Indonesia berpotensi untuk menerima sanksi dari blok Barat termasuk Amerika Serikat.

Di sisi lain, dia menambahkan, Amerika Serikat menguasai teknologi pembayaran lintas negara bahkan benua yang dapat memantau transaksi perdagangan antar negara lewat pembayaran US dolar. Hal itu, kata dia, menjadi kekhawatiran sebagian pihak untuk membeli minyak mentah dari Rusia.

“Setiap pengiriman US dolar harus lewat New York, kenapa kita takut mengambil minyak Rusia karena kita takut SWIFT-nya dimatikan,” ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper