Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Banyak Manfaat, Bagaimana Minat Apartemen Bersertifikat Hijau?

Konsumen belum memiliki kesadaran atas krisis iklim dan masih memilih hunian dengan pertimbangan budget.
Ilustrasi green building/Reuters
Ilustrasi green building/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Konsultan properti KnightFrank Indonesia mengatakan bahwa gedung apartemen berkonsep ESG (Environmental, Social, and Governance) merupakan kebutuhan di tengah krisis iklim yang mengancam. Sayangnya, masih butuh komitmen dan kerja keras untuk membangun minat konsumen.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan dengan kondisi lingkungan saat ini banyak aspek yang harus diperhatikan dalam pembangunan.

"Dalam jangka panjang, gedung berkonsep green building termasuk apartemen menjadi kebutuhan. Mengingat efisiensi sumber daya alam dan energi sudah sangat urgent untuk diperhitungkan lebih cermat," katanya saat dihubungi Bisnis, Jumat (26/8/2022).

Dia melihat saat ini, konsumen belum memiliki kesadaran tersebut dan masih memilih secara pragmatis kebutuhan huniannya sesuai dengan kapasitas budget yang dimiliki.

Untuk dapat mewujudkannya, seluruh pihak mesti ikut andil sehingga mulai dari membangun kesadaran terkait urgensi gedung ESG. Tetapi, dia mengatakan memang kendala terbesar saat ini yaitu nilai investasi pembangunan yang cukup tinggi.

Menurutnya, nilai investasi yang dibutuhkan untuk membangun gedung ESG bisa lebih besar 30-40 persen dibandingkan dengan gedung pada umumnya. Tetapi, tidak menutup kemungkinan minat pasar dapat terbuka lebar jika ada keuntungan dan manfaatnya yang menarik.

"Secara praktis, pengembang dan konsumen akan berminat menjadikan apartemen hijau sebagai alternatif, jika keuntungan atau manfaatnya tangible," paparnya.

Syarifah mencontohkan sejumlah manfaat yang mestinya ditawarkan untuk menarik minat pasar, seperti efisiensi dalam IPL (Iuran Pengelolaan Lingkungan) atas efisiensi listrik dan air, meskipun harga beli dan jual per unit relative lebih mahal.

Di sisi lain, untuk waktu dekat ini, masifnya gedung ESG dapat terwujud jika ada apresiasi berupa insentif yang dapat mendorong minat pengembang dan konsumen bergerak ke arah green building.

"Sehingga tidak hanya keuntungan tidak langsung [jangka panjang], namun keuntungan langsung dapat dirasakan oleh pengembang dan konsumen," jelasnya.

Cardon Reduce Commitment (CRC), yaitu skema pengurangan emisi karbon secara intensif sedianya dapat dilabeli kepada konsumen dan pengembang yang memilih green building. CRC sudah intens dilakukan di Inggris dan diterapkan di sektor publik maupun swasta.

Hal tersebut diyakini dapat berkontribusi mengurangi emisi karbon hingga 1,2 juta ton per tahun. Syarifah menilai label tersebut dapat dijadikan portofolio yang memberikan value-added asset atau aset pertambahan nilai baik bagi konsumen dan terlebih bagi pengembang.

Sebagai informasi, ada enam kriteria gedung hijau yang ditetapkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI) yaitu mempertimbangkan tepat guna lahan atau Appropriate Site Development (ASD), menciptakan efisiensi dan konservasi energi atau Energy Efficiency and Conservation (EEC).

Kemudian, membangun konservasi air atau Water Conservation (WAC), menggunakan material berstandar hijau atau Material Resources and Cycle (MRC), meningkatkan kenyamanan dan kesehatan area atau Indoor Health and Comfort (IHC), perencanaan lingkungan bangunan atau Building and Environmental Management (BEM).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper