Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Cara Bank UOB Ikut Dorong Net Zero Emission

Bank UOB meluncurkan platform pendanaan terintegrasi U-Energy untuk berkontribusi pada program target net zero emission.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 23 Juni 2022  |  16:30 WIB
Ini Cara Bank UOB Ikut Dorong Net Zero Emission
Asap membubung dari cerobong-cerobong asap sebuah pabrik pemanas di Jilin, China - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank UOB meluncurkan platform pendanaan terintegrasi U-Energy untuk mendorong pembangunan berkelanjutan yang dikhususkan bagi perumahan dan gedung sebagai wujud aktif perseroan ikut berkontribusi pada program target net-zero yang ditetapkan pemerintah pada 2060.

Presiden Direktur UOB Indonesia Hendra Gunawan mengatakan platform pembiayaan U-Energy itu terbilang sebagai fasilitas pendanaan pertama di kawasan Asia berkaitan dengan upaya efisiensi energi dari bangunan komersial dan perumahan.

Hendra mengatakan U-Energy juga menjadi rangkaian solusi pembiayaan berkelanjutan dari UOB yang berdasarkan pada kerangka pendanaan kota pintar berkelanjutan atau smart city sustainable framework yang memprioritaskan aspek ramah lingkungan.

“Kami akan memberikan panduan kepada para pelaku bisnis dan individu pemilik rumah tinggal yang ingin melangkah dalam model operasional berkelanjutan termasuk kebutuhan pembiayaan,” kata Hendra saat membuka diskusi panel bertajuk Transitioning to Net Zero Through Energy Efficiency yang disiarkan Bisnis Indonesia Event Organizer, Kamis (23/6/2022).

Hendra mengatakan UOB bakal bekerjasama dengan sejumlah mitra usaha strategis untuk mendukung program efisiensi energi yang diharapkan dapat mengurangi emisi karbon sesuai dengan peta jalan yang telah disusun pemerintah. Menurut dia, pendanaan berkelanjutan itu meraih momentumnya di tengah penambahan penduduk yang pesat dan kesadaran sebagian korporasi yang mulai tumbuh untuk pembangunan berkelanjutan.

Adapun panel diskusi itu turut dihadiri oleh Direktur Konservasi Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Luh Nyoman Puspa Dewi, Managing Director & Head Construction and Infrastructure Solutions Group UOB Singapore Jasper Wong, Wholesale Banking Director UOB Indonesia Harapman Kasan, Chairman of Indonesia Energy Conservation and Efficiency Society (MASKEEI) Soedjono Respati, Chairman & Founder PT Airkon Pratama Rana Yusuf Nasir, Clime Capital Management Pte.Ltd Mason Wallick dan Executive Director UOB Indonesia Susanto Lukman.

“UOB bekerja sama dengan mitra usaha kami yang akan mendukung proyek efisiensi energi. Kami berharap dukungan pemerintah dengan inisiatif dan insentif dapat menjadi momentum yang tepat untuk mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kebutuhan dana untuk memenuhi target nol emisi karbon atau net zero emission pada 2060 dapat mencapai Rp28.223 triliun, tujuh kali lipat lebih tinggi dari kebutuhan dana untuk memenuhi target Nationally Determined Contributions atau NDC pada 2030. Sayangnya, Indonesia baru mampu memenuhi 34 persen kebutuhan dana setiap tahunnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Analis Kebijakan Ahli Madya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Joko Tri Haryanto, sebagai pembicara di webinar bertajuk Tantangan Sektor Kelistrikan dalam Transisi Energi. Acara itu diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia pada Kamis (9/6/2022).

Joko menjelaskan bahwa pihaknya sedang menyelesaikan perhitungan untuk dokumen Climate Change Fiscal Framework, terkait kebutuhan dana untuk mencapai target net zero emission pada 2060. Berdasarkan kalkulasi BKF, kebutuhan dana itu mencapai Rp28.223,51 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emisi karbon bank uob indonesia Net Zero Emission
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top