Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rusia-Ukraina Memanas, Ini Prediksi Surplus Neraca Perdagangan RI

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memprediksi neraca perdagangan Indonesia seiring dengan konflik Rusia-Ukraina.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 14 Mei 2022  |  13:30 WIB
Pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar
Pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Makna Zaezar

Bisnis.com, JAKARTA -  Surplus perdagangan diprediksi akan berlanjut pada April 2022. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia bakal mencatat surplus sebesar US$4,23 miliar pada April 2022, cenderung lebih rendah dari Maret 2022 yang kala itu mencapai US$4,53 miliar.

"Kenaikan harga komoditas global di tengah perang Rusia-Ukraina tetap sangat mendukung kinerja ekspor Indonesia, demikian juga neraca perdagangan," kata Faisal melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (14/5/2022).

Menurut Faisal, baik ekspor maupun impor diperkirakan akan tetap tumbuh dua digit setiap tahunnya. Pada April 2022, ekspor Indonesia diperkirakan bakal meningkat 42,70 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Harga batu bara dan CPO diprediksi naik, masing-masing sebesar 227 persen yoy dan 56 persen yoy.

Sementara itu,  impor Indonesia pada April 2022 diprediksi tumbuh sebesar 36,72 persen yoy. Hal ini kata Faisal, didukung oleh permintaan musiman Ramadan dan Lebaran.

"PMI Manufaktur Indonesia naik tipis dari 51,3 menjadi 51,9 pada April 2022. Harga minyak juga tetap tinggi, meningkat 105 persen yoy," ujarnya.

Neraca transaksi berjalan terlihat mencatat surplus di 2022. Dia mengatakan, seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi domestik, surplus neraca barang pada neraca transaksi berjalan tahun ini diperkirakan akan menyusut lantaran impor akan mengejar ekspor.

Kendati demikian, konflik antara Rusia dan Ukraina telah memperpanjang tren kenaikan harga komoditas di tengah krisis energi global yang sedang berlangsung. Ini, kata Faisal, akan mendukung ekspor dan menjaga surplus barang cukup lama.

Di lain sisi, adanya larangan ekspor minyak sawit untuk sementara waktu sejak akhir April 2022 diramal bakal menurunkan kinerja ekspor sampai taraf tertentu.

Menurut Faisal, lamanya larangan tersebut kemudian akan menentukan dampak kebijakan terhadap neraca barang di sisa 2022.

Atas dasar itulah, Bank Mandiri merevisi perkiraan neraca transaksi berjalan untuk 2022 dari -2,15 persen dari PDB menjadi 0,03 persen dari PDB.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan Rusia Perang Rusia Ukraina
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top