Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Bisa Buntung Gara-gara Invasi Rusia, Kok Bisa?

Ketegangan di Eropa Timur antara Rusia dengan Ukraina akan memberi pukulan Indonesia sebagai net importir migas. 
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 24 Februari 2022  |  16:33 WIB
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia - Bloomberg/Andrei Rudakov
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia - Bloomberg/Andrei Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Invasi Rusia terhadap wilayah Ukraina memberi dampak buruk bagi sektor hilir minyak dan gas RI. Meski terjadi penguatan dari sisi harga, tetapi kondisi ini menambah beban negara sebagai net importir migas. 

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan ketegangan di Eropa Timur akan memberi pukulan bagi sektor hilir. Penguatan harga migas dunia membuat beban subsidi akan naik. Kondisi ini juga akan berdampak pada peningkatan Indonesian crude price (ICP). 

Beban subsidi ini tidak hanya terjadi pada sektor kelistrikan, akan tetapi turut terjadi pada sektor bahan bakar. Bila situasi ini terus terjadi bukan tidak mungkin akan mengalami kenaikan inflasi. 

“Pastinya Pertamina akan semakin terpukul kalau misalnya Pertamax dan Pertalite tidak dinaikan. Kecuali pemerintah mau memberikan kompensasi menjadi 100 persen. Kalau kita lihat dari Perpres 117/2021 hanya 50 persen [dikompensasi] itupun dengan komposisi campur Premium,” katanya kepada Bisnis, Kamis (24/2/2022). 

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas sepanjang 2021 mencapai US$196,20 miliar atau setara US$2.805 triliun (kurs Rp14.300 per dolar AS). Capaian ini meningkat 38,59 persen dibandingkan 2020 dengan nilai impor US$141,57 miliar atau setara Rp2.024 triliun. 

“Saya pastikan sektor komoditas lainya turut mengalami kenaikan, untuk komoditas mineral bahkan komoditas pertanian seperti CPO ikut mengalami kenaikan karena kekhawatiran pasar akan kurangnya pasokan kalau invasi ini benar-benar meluas," jelasnya.

Data Bloomberg hingga 12.16 WIB mencatat minyak Brent melonjak 4,65 persen atau 4,50 poin ke US$101,34 per barel sementara minyak WTI naik 4,59 persen atau 4,23 poin ke US$96,33 per barel. 

Mengutip Bloomberg, Kamis (24/2/2022), lonjakan harga minyak merupakan kombinasi yang mengkhawatirkan bagi Federal Reserve AS dan sesama bank sentral karena mereka berusaha menahan tekanan harga terkuat dalam beberapa dekade tanpa menggagalkan pemulihan ekonomi dari pandemi.

Selain itu batu bara turut mengalami lonjakan 1,45 poin untuk kontrak Februari menjadi US$237,70 per metrik ton pada Rabu (23/2/2022). Penguatan terjadi paling besar untuk kontrak Maret dan April masing-masing 12,40 poin (menjadi US$237,15 per metrik ton) dan 11,60 poin (menjadi US$212,10 per metrik ton).

Sementara bagi sektor hulu, kondisi ini sekaligus akan menjadi durian runtuh alias windfall bagi Indonesia dengan penguatan pada harga komoditas. 

“Secara otomatis ke depan PNBP [pendapatan negara bukan pajak] akan meningkat. Kemudian juga dari sisi pajak akan mengalami kenaikan,” terangnya.

Situasi ini diharapkan dapat dijadikan momentum untuk mencapai target lifting serta produksi tahunan maupun hingga 2030. Selain itu, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dapat berlomba untuk meningkatkan pengeboran sehingga dapat menjaga maupun meningkatkan produktivitas mereka. 

Selain itu, kegiatan penerapan teknologi enhanced oil recovery atau EOR juga perlu segera dipacu untuk mencapai target lifting migas 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD)  pada 2030. 

“Serta kegiatan eksplorasi saya harapkan bisa tumbuh [di tengah penguatan harga komoditas[,” terangnya. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas rusia harga minyak mentah Krisis Ukraina
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top