Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sanksi AS ke Rusia: Investor Obligasi Negara Gigit Jari

Dilansir Bloomberg pada Rabu (23/2/2022), investor yang memiliki hubungan dengan Amerika Serikat tidak diperbolehkan membeli surat utang negara Rusia yang baru diperdagangkan mulai 1 Maret.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  16:42 WIB
Tentara Angkatan Darat Amerika Serikat Divisi Airborne ke-82 berjalan menuju pesawat udara yang akan bertolak ke Eropa Timur di Fort Bragg, Carolina Utara, Amerika Serikat, Senin (14/2/2022). Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengirimkan sebanyak 3000 tentara tambahan guna memperkuat NATO di Eropa Timur untuk mengamankan Ukraina jika klaim serangan Rusia benar-benar terjadi. - Antara/Reuters
Tentara Angkatan Darat Amerika Serikat Divisi Airborne ke-82 berjalan menuju pesawat udara yang akan bertolak ke Eropa Timur di Fort Bragg, Carolina Utara, Amerika Serikat, Senin (14/2/2022). Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengirimkan sebanyak 3000 tentara tambahan guna memperkuat NATO di Eropa Timur untuk mengamankan Ukraina jika klaim serangan Rusia benar-benar terjadi. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Trader obligasi sedang mencemaskan portofolionya setelah Presiden AS Joe Biden membidik pasar surat utang negara Rusia sebagai sanksi keras atas invasi awal ke Ukraina.

Dilansir Bloomberg pada Rabu (23/2/2022), investor yang memiliki hubungan dengan Amerika Serikat tidak diperbolehkan membeli surat utang negara Rusia yang baru diperdagangkan mulai 1 Maret.

Mereka yang sudah menghadapi larangan membeli di pasar primer, juga dilarang membeli di pasar sekunder.

"Pada jangka pendek, [sanksi] sepertinya tidak mungkin berdampak besar pada ekonomi Rusia. Namun, pada jangka panjang, tindakan ini, ditambah tindakan dari Uni Eropa kemungkinan akan menghambat pertumbuhan ekonomi Rusia," ungkapnya

Pejabat senior administrasi AS mengatakan sanksi tersebut akan menargetkan pasar primer, terutama terkait dengan pengumpulan dana. Pejabat tersebut mengatakan Eropa telah mengimplementasikan tindakan serupa.

"Sepanjang ini tidak termasuk surat utang Rusia yang sudah ada, kami dan pasar akan baik-baik saja, karena kami bisa menjual aset jika dibenarkan atau dtambahkan. Ini bukan sanksi yang keras secara desain," ungkap Jack McIntyre, Manajer Portofolio Brandywine Global Investment Management di Philadelphia.

Wakil Kepala Pictet Asset Management di London Guido Chamoro mengatakan diterapkannya sanksi berarti Rusia tidak akan bisa meminjam ke luar negeri untuk sementara waktu.

Namun, dengan tingkat utang luar negeri yang rendah dan cadangan yang tinggi, berarti Rusia dapat bertahan bahkan tanpa dana asing, katanya.

"Itu membuat lebih sulit bagi Rusia untuk menerbitkan utang luar negeri, tetapi mereka benar-benar tidak membutuhkannya," tulis Cathy Hepworth, kepala utang pasar negara berkembang di PGIM Fixed Income.

Kendati demikian, jika sanksi diintensifkan, misalkan diterapkan kepada lebih banyak bank Rusia, mungkin akan sedikit lebih rumit bagi bank lokal untuk memiliki kapasitas yang sama.

Menurut data Kementerian Keuangan per Desember 2021, investor AS memegang sekitar US$14 miliar obligasi jangka panjang Rusia, sedikit lebih besar dari obligasi Turki, tetapi tidak sebesar obligasi dari Norwegia.

Harga surat utang negara Rusia turun akibat kabar sanksi dari Biden. Obligasi euro Rusia yang jatuh tempo pada 2028 anjlok hingga 3,7 sen menjadi 136 sen dolar AS pada Selasa, menjadi yang terendah sejak 2015.

Sementara itu, surat utang negara AS naik 50 basis poin pada Selasa menjadi 330 basis poin, menurut indeks JPMorgan Chase & Co.

Selama periode ketegangan sebelumnya dengan Rusia pada 2018, Kementerian Keuangan AS telah memperingatkan bahwa dampak sanksi terhadap pasar utang negara akan berisiko menimbulkan gejolak keuangan global.

Chamorro dari Pictet mengatakan sanksi yang lebih keras dapat mengguncang seluruh aset Rusia, mulai dari obligasi euro hingga rubel.

"Sepertinya ini baru sanksi putaran pertama di mana mereka menyimpan yang lebih keras sebagai cadangan tergantung pada bagaimana hal-hal berkembang di lapangan,” kata Jens Nystedt, Manajer Uang Senior Emso Asset Management.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi rusia ukraina Joe Biden
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top