Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Mulyani: Inflasi Global Bayangi RAPBN 2023

Pada tahun depan perekonomian dunia akan diwarnai dengan kondisi baru, di mana terjadi lonjakan inflasi di berbagai negara sebagai imbas dari pemulihan ekonomi.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 16 Februari 2022  |  17:05 WIB
Sri Mulyani: Inflasi Global Bayangi RAPBN 2023
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan pemaparan dalam konferensi pers Realisasi APBN 2021 di Jakarta, Senin (3/1/2021). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa Indonesia perlu mewaspadai risiko inflasi global dan menjadikannya acuan dalam menentukan RAPBN 2023.

Hal tersebut disampaikan oleh Sri Mulyani dalam konferensi pers terkait hasil sidang kabinet paripurna pada Rabu (16/2/2022) di Istana Negara, Jakarta. Sidang itu di antaranya membahas penyusunan rancangan anggaran tahun depan.

Menurut Sri Mulyani, Indonesia beradaptasi dengan kondisi domestik yang menunjukkan tren pemulihan. Naiknya konsumsi masyarakat memicu pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.

Di sisi lain, Sri Mulyani pun mengingatkan dalam sidang kabinet itu bahwa terdapat dinamika lain dalam kondisi global, yang menurutnya merupakan lingkungan baru. Terjadi lonjakan inflasi di berbagai negara sebagai imbas dari pulihnya perekonomian.

"Lonjakan inflasi dunia, terutama di negara-negara maju. Seperti diketahui Amerika Serikat mencapai 7,5 persen inflasinya pada Februari ini," ujar Sri Mulyani pada Rabu (16/2/2022).

Menurutnya, lonjakan inflasi secara global, terutama di negara-negara maju akan mendorong kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas. Hal tersebut akan memberikan dampak rambatan atau spillover sehingga pemerintah perlu mewaspadainya.

Dia menilai bahwa arus modal (capital flow) akan mengalami pengaruh negatif dari kenaikan suku bunga. Tekanan di sisi imbal hasil (yield) surat berharga akan mendorong biaya surat utang negara.

Risiko 'lingkungan baru' pun menurutnya terjadi di negara-negara berkembang karena inflasinya yang juga sudah meningkat. Argentina mencatatkan inflasimencapai 50 persen, Turki 48 persen, Brazil 10,4 persen, Rusia 8,7 persen, dan Meksiko 7,1 persen.

"Kenaikan inflasi yang tinggi tentu akan bisa mengancam proses pemulihan ekonomi karena daya beli masyarakat tentu akan tergerus. Ini yang akan diwaspadai," ujar Sri Mulyani usai menjelaskan hal tersebut kepada Presiden Joko Widodo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi ekonomi sri mulyani
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top