Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Goldman Sachs Yakin The Fed Bakal Lebih Agresif

Ekonom Goldman Sachs mengatakan The Fed memutuskan akan lebih agresif dengan kenaikan 25 basis poin dalam pertemuan berturut-turut daripada 50 basis poin tahun ini.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 24 Januari 2022  |  10:03 WIB
Lambang Dewan Gubernur Federal Reserve AS di Washington D.C. -  Bloomberg / Samuel Corum
Lambang Dewan Gubernur Federal Reserve AS di Washington D.C. - Bloomberg / Samuel Corum

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom Goldman Sachs Group Inc., memprediksi adanya risiko pengetatan yang lebih agresif dari Federal Reserve daripada yang diantispasi oleh perbankan Wall Street saat ini.

Dilansir Bloomberg pada Senin (24/1/2022), ekonom yang dipimpin oleh Jan Hatzius mengatakan dalam sebuah laporan bahwa kenaikan suku bunga akan terjadi pada Maret, Juni, September, dan Desember. Adapun pemangkasan neraca keuangan akan dimulai pada Juli.

"[Namun, tekanan inflasi berarti bahwa] risiko agak miring ke atas dari garis dasar kami," ujarnya.

Hatzius dibuat lebih khawatir dengan adanya varian omicron yang membuat macet rantai pasok yang tidka seimbang dan juga pertumbuhan upah. Faktor-faktor itu akan memperparah inflasi.

"Kami melihat risiko FOMC [Komite Pasar Terbuka Federal] akan mengambil langkah pengetatan pada setiap pertemuan sampai gambarannya berubah. Ini akan meningkatkan kemungkinan kenaikan atau pengumuman tentang neraca keuangan lebih awal pada Mei dan lebih dari empat kali kenaikan tahun ini," ungkap ekonom Goldman Sachs.

Gubernur The Fed Jerome Powell dan kolega di FOMC akan melakukan pertemuan pada pekan ini di tengah sinyal kenaikan suku bunga dari mendekati nol pada Maret.

Ekonom Goldman Sachs mengatakan The Fed memutuskan akan lebih agresif dengan kenaikan 25 basis poin dalam pertemuan berturut-turut daripada 50 basis poin.

"Bahkan itu adalah langkah besar, dan beberapa pejabat The Fed tampaknya mempertimbangkannya untuk saat ini," kata mereka.

Pemicu kenaikan suku bunga lainnya adalah ekspektasi inflasi jangka panjang atau kejutan kenaikan inflasi lanjutan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kebijakan moneter the fed
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top