Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jaringan 5G Ganggu Penerbangan, Ini Kata Pengamat

Belakangan heboh pembatasan penggelaran jaringan 5G di Amerika Serikat dengan alasan mengganggu sistem penerbangan.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 22 Januari 2022  |  15:04 WIB
Warga menggunakan smartphone berjalan melewati papan Taman 5G di markas Huawei Technologies Co. di Shenzhen, China, Rabu(22/5/2020).  - Bloomberg/Qilai Shen
Warga menggunakan smartphone berjalan melewati papan Taman 5G di markas Huawei Technologies Co. di Shenzhen, China, Rabu(22/5/2020). - Bloomberg/Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat Penerbangan Alvin Lie turut menanggapi pemberitaan mengenai pembatasan sementara penggelaran jaringan 5G di Amerika Serikat (AS) yang menggunakan pita frekuensi 3,7 GHz, khususnya di area sekitar bandara.

Menurut Alvin, jaringan 5G di AS yang disebut-sebut mengganggu sistem penerbangan, memiliki perbedaan dengan di Indonesia. Hal itu juga dipengaruhi oleh alokasi frekuensinya.

"Pertama 5G itu kan sistem pemanfaatan frekuensi radio untuk pengiriman data secara wireless. Di AS, 5G itu alokasi frekuensinya memang berdekatan dengan frekuensi radar sehingga ada dampaknya tapi penggunaan alokasi frekuensi yang seperti di AS itu hanya di sana," kata Alvin kepada Bisnis.com, Sabtu (22/1/2022).

Dia memastikan, penggunaan jaringan 5G dan alokasi frekuensi di AS dan negara-negara lainnya termasuk Indonesia berbeda. Di Indonesia, alokasinya lebih jauh dari frekuensi yang digunakan untuk radar.

Dengan begitu, lanjut Alvin, tidak ada masalah penggunaan jaringan 5G di Indonesia seperti permasalahan yang terjadi di AS tersebut.

"Dari data-data yang ada memang yang terdampak itu adalah instrumen altimeter dari pesawat Boeing padahal instrumen yang dipakai Airbus itu lebih sensitif terjadap gangguan frekuensi. Jadi permasalahnnya bukan pada 5G-nya tapi alokasi frekuensinya di AS yang terlalu berdekatan dengan frekuensi radar," tegasnya.

Sebelumnya Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate juga menegaskan spektrum frekuensi radio untuk jaringan telekomunikasi 5G di Indonesia aman dan tidak menganggu spektrum frekuensi keselamatan penerbangan.

Dia mengaku saat ini pemerintah tengah mengkaji adanya potensi interferensi antara jaringan 5G dengan radio altimeter mengingat hal ini sangat berkaitan dengan keselamatan penerbangan.

"Sistem radio altimeter merupakan sistem keselamatan utama dan penting dalam pengoperasian pesawat udara. Hal itu agar menentukan ketinggian posisi pesawat udara terbang di atas tanah," ujar Johnny.

Dia menuturkan, pengaturan frekuensi 5G di Indonesia dapat dikatakan relatif aman. Hal ini disebabkan tersedianya guard band selebar 600 MHz yang membentang dari mulai frekuensi 3,6 GHz sampai dengan 4,2 GHz, guna membentengi radio altimeter dari sinyal jaringan 5G.

Selain itu, alokasi frekuensi untuk radio altimeter yang telah ditetapkan oleh Radio Regulations ITU (International Telecommunication Union) di Indonesia adalah pada rentang 4,2 – 4,4 GHz. Sedangkan kondisi pengaturan frekuensi 5G di AS menggunakan pita frekuensi 3,7 - 3,98 GHz.

“Case yang terjadi di Amerika Serikat konteksnya adalah untuk jaringan 5G yang bekerja pada pita frekuensi 3,7 GHz atau 3.700 Mhz tepatnya pada rentang 3,7 sampai 3,98 GHz. Sistem yang dikhawatirkan terganggu adalah sistem Radio Altimeter yang bekerja pada pita frekuensi 4,2 - 4,4 GHz,” tutupnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi teknologi 5G
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top