Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengetatan Moneter Redupkan Daya Tarik Surat Utang China

Studi yang dilakukan Bloomberg melaporkan bahwa surat utang China berada di peringkat ke-6 dari sembilan utang yang memiliki kriteria safe haven.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  19:13 WIB
Yuan - Bloomberg
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Daya tarik obligasi Pemerintah China yang sempat menggoda investor global dalam beberapa tahun terakhir, tampaknya akan memudar setelah serangkaian tindakan keras pemerintah setempat mengawasi bisnis seperti properti dan teknologi.

Hal ini memicu pertanyaan apakah perubahan peraturan yang tiba-tiba dapat membahayakan investasi asing di sekuritas. Di sisi lain, suku bunga acuan yang menyesuaikan inflasi yang positif dan volatilitas yang relatif stabil membuat beberapa manajer investasi tetap optimistis pada surat utang negara China.

Namun, risiko terhadap kerasnya regulasi dan kurang cemerlangnya peringkat kredit telah meredam daya tarik aset ini dan sulit bersaing dengan surat utang AS atau US Treasury sebagai aset safe haven global. Dengan demikian, niat Beijing untuk mempromosikan penggunaan yuan di seluruh dunia dan melemahkan dominasi dolar masih terhambat.

"Saya tidak bisa tidak merasakan risiko regulasi yang lebih ketat untuk obligasi negara,” kata Akira Takei, Manajer Keuangan Pendapatan Tetap Global di Asset Management One Co., Tokyo seperti dikutip Bloomberg pada Kamis (9/12/2021).

Kendati meyakini belum akan ada pengetatan apapun di pasar obligasi pemerintah China, Takei mengatakan masih ada kemungkinan dampak peraturan terhadap investasi di seluruh China.

Studi yang dilakukan Bloomberg melaporkan bahwa surat utang China berada di peringkat ke-6 dari sembilan utang yang memiliki kriteria safe haven yang juga melibatkan faktor seperti aset asing dan volatilitas. Sementara itu, obligasi Jepang menduduki peringkat satu, diikuti dengan Swiss, dan Kanada. Adapun Inggris berada di urutan paling bontot.

Surat utang negara China meraih skor minus 2,72 pada aspek supremasi hukum, paling rendah dari negara lainnya. Sekuritas ini juga menjadi yang terburuk dalam hal peringkat kredit yakni sebesar minus 1,63.

"Jika peraturan pergerakan modal diperketat, misalnya melalui pembatasan transaksi di akses pasar, investor luar negeri kemungkinan akan dirugikan,” tulis ekonom di Japan Research Institute Ltd., Minoru Nogimori dalam sebuah laporan.

Kendati demikian, investor mancanegara terus menempatkan miliaran dolar pada obligasi Pemerintah China. Berdasarkan data ChinaBond, kepemilikan investor tumbuh 513,7 miliar yuan (US$81 miliar) pada 11 bulan pertama, menjadi yang tertinggi pada periode ini dibandingkan pada 2014.

Ahli strategi suku bunga Oversea-Chinese Banking Corp., di Singapura, Frances Cheung mengatakan arus masuk dari investor global kemungkinan akan terus berlanjut mengingat obligasi China tetap menarik dari perspektif perbedaan imbal hasil nyata.

Di antara sembilan negara yang dianalisis oleh Bloomberg, hanya China yang menawarkan imbal hasil positif yang disesuaikan dengan inflasi.

Manajer Portofolio Barings LLC di Tokyo Manabu Tamaru menyadari adanya risiko perubahan regulasi tiba-tiba di China. Namun dia meyakini surat utang negara tidak akan menjadi targetnya. "Karena itu akan memicu eksodus dana asing. Jadi saya pikir investor obligasi ada di posisi yang aman," ungkapnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china investor china

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top