Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penyaluran Minyak Goreng Subsidi Masih Jauh dari Target

Volume minyak goreng yang telah disalurkan sejauh ini baru mencapai 280.000 liter atau sekitar 243.600 kilogram (kg). Padahal alokasi minyak goreng seharga Rp14.000 per liter ditargetkan mencapai 11 juta liter sepanjang November–Desember.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 29 November 2021  |  17:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Realisasi penyaluran minyak goreng subsidi dari produsen jauh dari target. Perusahaan-perusahaan penyedia minyak goreng kemasan sederhana bakal menggenjot penyaluran pada Desember 2021.

Volume minyak goreng yang telah disalurkan sejauh ini baru mencapai 280.000 liter atau sekitar 243.600 kilogram (kg). Padahal alokasi minyak goreng seharga Rp14.000 per liter ditargetkan mencapai 11 juta liter sepanjang November–Desember.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengemukakan kerja sama penyaluran mengalami kendala dalam proses distribusi melalui ritel modern. “Sebelumnya kami perkirakan bisa dipasok dalam 2 bulan [November dan Desember 2021]. Namun sejauh ini belum sesuai harapan karena komunikasi dengan asosiasi peritel belum lancar,” kata Sahat, Senin (29/2021).

Alokasi 11 juta liter minyak goreng subsidi dalam kemasan sederhana sendiri dipasok oleh GIMNI dan Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) dengan volume masing-masing 5,5 juta liter. Sahat mengatakan penyaluran melalui ritel modern belum bisa terlaksana karena perusahaan ritel belum melakukan pemesanan pembelian.

“Kalau ingin dipasok harus ada purchase order dulu, jadi kami menunggu pemesananan dari gerai-gerai ini dan sampai sekarang baru sebagian,” katanya.

Sahat mengatakan sejumlah produsen minyak goreng anggota GIMNI memutuskan untuk melakukan pemasaran secara mandiri untuk mempercepat penyaluran. Sejauh ini, penyaluran minyak goreng telah mulai dilakukan di beberapa daerah di Sumatra seperti di Medan, Asahan, Tanah Karo, Palembang, dan Jambi.

“Di Jakarta rencananya produsen akan mulai jual besok, tetapi dengan pembatasan. Satu orang hanya bisa membeli satu bungkus demi mencegah penimbunan dan penjualan kembali,” tambahnya.

Sahat juga memperkirakan volume minyak goreng murah dari produsen bisa bertambah ke depannya, seiring dengan proyeksi harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang masih tinggi sampai pertengahan 2022. Oleh karena itu perusahaan perkebunan sawit perlu berpartisipasi dalam menyediakan minyak goreng murah untuk pasar domestik.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan bahwa penyediaan minyak goreng harga terjangkau dengan melibatkan perusahaan produsen dan peritel telah mulai berjalan. Namun, distribusi baru menjangkau sebagian wilayah Sumatra dan Jawa.

“Penyaluran sudah mulai dilakukan, tetapi baru di Jawa dan Sumatra. Kami terus lakukan evaluasi,” kata Oke.

Adapun per Jumat (26/11/2021), harga rata-rata nasional minyak goreng curah naik 13,25 persen secara bulanan menjadi Rp17.100 per liter, minyak goreng kemasan sederhana naik 14,29 persen menjadi Rp17.600 per liter, dan minyak goreng kemasan premium naik 12,35 persen menjadi Rp19.100 per liter.

Kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri dipicu oleh kenaikan harga CPO yang masih terus terjadi hingga menembus level tertinggi. Harga CPO di Dumai tercatat mencapai Rp12.812 per liter. Harga tersebut lebih tinggi 51,06 persen dibandingkan dengan November 2020.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak goreng harga cpo
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top