Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Minyak Rusia Turun Berpotensi Dukung Tambahan dari OPEC+

OPEC telah mempertimbangkan menghentikan produksi sementara setelah AS dan konsumen minyak besar lainnya melepas cadangan strategis mereka pada Senin. Namun, masih belum jelas apakah Rusia juga akan mendukung rencana kenaikan produksi pada bulan depan.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 28 November 2021  |  13:05 WIB
Ilustrasi kilang lepas pantai.  - Bloomberg/Tim Rue
Ilustrasi kilang lepas pantai. - Bloomberg/Tim Rue

Bisnis.com, JAKARTA — Produksi minyak Rusia menurun pada bulan ini seiring dengan persediaan cadangan yang semakin menipis. Hal ini dapat membuat sekutu OPEC ini tidak menentang rencana pembatalan menaikkan produksi pada pekan depan.

Data Kementerian Energi Rusia, unit CDU-TEK menunjukkan produksi rata-rata harian minyak mentah dan kondensat mencapai 1,48 juta ton pada 1–24 November 2021. Itu setara dengan 10,89 juta barel per hari, berdasarkan tingkat konversi 7,33 barel per ton.

Artinya, peningkatan hanya sedikit yakni sebesar 0,49 persen secara month to month dan jika dibandingkan dengan kenaikan 1 persen pada Oktober dan 2,8 persen pada September.

Sementara itu, produksi pada Agustus turun ketika perusahaan plat merah Gazprom membatasi produksi pabrik kondensat terbesar di Siberia Barat setelah terjadinya kebakaran.

Produsen utama negara itu telah memompa mendekati kapasitas penuh setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya mengurangi pembatasan produksi.

Menurut delegasi OPEC yang enggan disebut namanya, organisasi itu dan sekutunya memberi sinyal membatalkan rencana menambah produksi setelah penyebaran varian virus baru memicu kejatuhan harga minyak terburuk dalam lebih dari setahun.

Bahkan, OPEC telah mempertimbangkan menghentikan produksi sementara setelah AS dan konsumen minyak besar lainnya melepas cadangan strategis mereka pada Senin. Namun, masih belum jelas apakah Rusia juga akan mendukung rencana kenaikan produksi pada bulan depan.

Hingga saat ini, produsen asal Rusia elah meningkatkan produksi terutama dengan memulihkan produksi di sumur yang ditutup pada 2020 atau meningkatkan aliran dari sumur yang beroperasi. Untuk meningkatkan produksi tahun depan, mereka perlu fokus pada pengeboran sumur baru.

Pada awal pekan ini, produsen kedua terbesar Rusia Lukoil PJSC, mengatakan telah memulihkan produksinya hampir 90 persen dari level sebelum krisis pandemi pada kuartal I/2020.

"Kami sudah mendekati pada utilisasi penuh dari [penggunaan] cadangan dan pertumbuhan produksi setelahnya akan didukung dari pengeboran tambahan," ujar Wakil Presiden Keuangan Pavel Zhdanov pada 24 November.

Pada awal bulan ini, produsen minyak terbesar di Rusia, Rosneft PJSC, mengatakan sebelumnya menggunakan kapasitas produksi cadangan 25.000 ton per hari (sekitar 183.250 barel per hari), yang tersedia pada akhir kuartal kedua.

Perusahaan juga akan segera meningkatkan produksi minyak mentah untuk memastikan kepatuhan dengan kuota OPEC+ yang telah disepakati untuk Rusia.

Oleh karena data CDU-TEK tidak memberikan rincian antara minyak mentah dan kondensat yang dikecualikan dari perjanjian OPEC+, maka sulit untuk menilai kepatuhan Rusia terhadap kesepakatan tersebut.

Badan Energi Internasional melaporkan dalam laporan bulanan terbarunya, Rusia memproduksi secara berlebihan hingga mencapai kepatuhan sebesar 92 persen pada Oktober.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi Harga Minyak opec
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top