Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Belum Merata

Per 11 November 2021, Perum Bulog tercatat mengelola 1,26 juta ton beras, 7.442 ton gula pasir, 189,94 ton tepung terigu, dan 273,82 ton minyak goreng. Perusahaan belum melakukan pengadaan jagung pipil kering, terlepas dari harga yang sempat naik di kalangan peternak pengguna.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 24 November 2021  |  22:30 WIB
Ilustrasi - Seorang pegawai Perum Bulog Wilayah Sumatra Barat memperlihatkan stok beras yang tersedia di Gudang Ampalu Bypass Padang, yang diklaim cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga momen Ramadhan 2021 nanti, Senin (1/3/2021).  - Bisnis/Noli Hendra
Ilustrasi - Seorang pegawai Perum Bulog Wilayah Sumatra Barat memperlihatkan stok beras yang tersedia di Gudang Ampalu Bypass Padang, yang diklaim cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga momen Ramadhan 2021 nanti, Senin (1/3/2021). - Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, JAKARTA — Perum Bulog telah diamanatkan oleh konstitusi untuk menjalankan tugas menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan. Dari 11 jenis pangan yang ditugaskan, Perum Bulog belum memiliki stok cadangan untuk sebagian komoditas.

Per 11 November 2021, Perum Bulog tercatat mengelola 1,26 juta ton beras, 7.442 ton gula pasir, 189,94 ton tepung terigu, dan 273,82 ton minyak goreng. Perusahaan tercatat belum melakukan pengadaan jagung pipil kering, terlepas dari harga yang sempat naik di kalangan peternak pengguna.
 
Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog Mokhamad Suyamto mengatakan terdapat dua pertimbangan dalam menentukan pengadaan stok pangan. Pertimbangan tersebut mencakup ketersediaan komoditas saat masa panen dan juga sifat dari komoditas, apakah memiliki karakteristik bisa disimpan dalam jangka panjang atau tidak.

“Melihat keadaan tersebut tentu treatmentnya berbeda-beda. Misal yang bisa disimpan lama beras dan jagung. Dalam hal ini kami akan lakukan penyerapan saat panen dan disimpan di gudang, lalu disalurkan saat tidak panen,” kata Suyamto dalam diskusi yang digelar Kadin Indonesia, Rabu (24/11/2021).

Sementara untuk komoditas yang memiliki ketahanan terbatas seperti bawang merah dan cabai-cabaian, Suyamto mengatakan perusahaan tengah menjajal potensi pemanfaatan rantai dingin.

“Yang pertama kami lakukan bagaimana menyiapkan penyimpanan, jadi berbicara soal cold chain. Bagaimana komoditas disimpan dalam ruang berpendingin sehingga bisa disimpan dalam waktu relatif lama dan tidak mengalami kerusakan sehingga bisa dijual saat tidak panen,” katanya.

Namun dia tidak memungkiri adanya komoditas yang memang tidak bisa disimpan dalam waktu lama, seperti telur ayam. Dia mengatakan Perum Bulog dan stakeholder terkait telah beberapa kali membahas soal penanganan stabilitas pasokan telur yang kerap melebihi kebutuhan sehingga harga pangan di pasaran turun.

“Beberapa kali kami sudah diskusikan bagaimana saat produksi melimpah, kita buat jadi tepung telur. Dengan demikian bisa diserap olah dan disimpan,” kata dia.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menduga terbatasnya peran Perum Bulog dalam stabilitas pasokan dan harga komoditas di luar beras dipengaruhi oleh kesiapan anggaran.

“Dugaan saya bisa salah, tetapi salah satu yang krusial adalah anggaran. Untuk beras saja anggarannya puluhan triliun. Kalau lebih dari satu komoditas, tentu anggarannya akan bengkak,” kata Khudori.

Dia mengatakan bahwa sejauh ini memang belum ada otoritas khusus yang ditugasi menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas pangan sebagaimana Perum Bulog ditugasi menjaga stok beras nasional lewat penyerapan. Namun permasalahan ini bisa diurai jika peran Badan Pangan Nasional berjalan sesuai ketentuan.

“Pada akhirnya, pemerintah memang mesti segera menentukan sikap. Tidak bisa membiarkan hal semacam ini [ketidakstabilan pasokan dan harga] berulang sepanjang tahun,” kata dia.

Peraturan Pemerintah No. 17/2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi telah mengamanatkan Presiden untuk menetapkan jenis pangan pokok yang memerlukan instrumen stabilitas pasokan dan harga.

Melalui Peraturan Presiden No. 48/2016 tentang Penugasan kepada Perum Bulog dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional, jenis pangan tersebut mencakup beras, jagung, kedelai, gula, minyak goreng, tepung terigu, bawang merah, cabai, daging sapi, daging ayam ras, dan telur ayam.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bulog pangan harga pangan
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top