Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kementan Borong 1 Juta Butir Telur dari Peternak Rakyat

Penyerapan 1 juta telur ini merupakan tindak lanjut dari hasil koordinasi dengan Kemenko Perekonomian yang mengimbau aksi solidaritas bersama untuk peternak rakyat.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 01 November 2021  |  21:39 WIB
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo(kedua kiri), Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto (kedua kanan), dan Kepala Biro PerekonomianSekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Benny Bachtiar (kiri) sedang memanen jagung pada program Millennial Smartfarming di Desa Narawita, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Rabu, 10 Maret 2021.  - Dok. BNI
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo(kedua kiri), Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto (kedua kanan), dan Kepala Biro PerekonomianSekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Benny Bachtiar (kiri) sedang memanen jagung pada program Millennial Smartfarming di Desa Narawita, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Rabu, 10 Maret 2021. - Dok. BNI

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) akan menyerap 1 juta telur dari peternak rakyat.  Hal ini dilakukan sebagai upaya membantu penyerapan telur di tingkat peternak sekaligus upaya peningkatan konsumsi protein hewani.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebutkan kegiatan penyerapan 1 juta telur ini merupakan tindak lanjut dari hasil koordinasi dengan Kemenko Perekonomian yang mengimbau aksi solidaritas bersama untuk peternak rakyat.

"Telur yang dibeli oleh Kementan diperuntukkan untuk konsumsi pegawai Kementan, yayasan panti asuhan dan yatim piatu," ujar Syahrul melalui siaran pers, Senin (1/11/2021).

Dia mengatakan penyerapan telur oleh Kementan dari peternak ayam ras petelur ditargetkan sebanyak 1 juta butir atau setara 62,5 ton dengan harga beli Rp19.000 per kilogram.

Pada tahap pertama telah diserap sebanyak 30 ton dan sisanya sebanyak 32,5 ton akan diserap pada tahap selanjutnya. Lokasi sentra penyerapan telur terdiri dari Provinsi Lampung, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Dukungan semua pihak dalam melakukan aksi solidaritas sangat dibutuhkan sebagai bentuk kepedulian terhadap peternak. Semoga upaya kepedulian ini dapat memicu pemulihan stabilitas perunggasan telur ayam ras," katanya.

Syahrul mengatakan harga telur ayam ras memang dipengaruhi oleh volume pasokan di kandang dan daya serap pelaku pasar. Sementara, volume pasokan di kandang sangat tergantung dari struktur umur induk dan sebaran produksi puncak tidak merata setiap bulan.

Selain itu, pola konsumsi juga bersifat musiman terutama di daerah-daerah sentra produksi dan menyesuaikan hari besar keagamaan serta kegiatan hajatan masyarakat berkaitan dengan penanggalan Jawa.

"Produksi telur yang tinggi di daerah sentra mempengaruhi peternak dan pelaku pasar mencari potensi pasar di daerah yang memiliki tren harga stabil dan lebih tinggi," ucapnya.

Akibat mekanisme pasar dan distribusi telur antardaerah, harga telur ayam ras fluktuatif atau berubah-ubah. Terlebih, adanya kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama pandemi Covid-19 mempengaruhi konsumsi telur ayam.

Potensi produksi telur ayam ras pada Oktober mencapai 426.241 ton dan kebutuhannya 377.744 ton. Jumlah ini berpotensi membuat surplus sebanyak 48.497 ton. Pada 2021, produksi telur ayam diperkirakan mencapai 5,52 juta ton dengan tingkat konsumsi sebesar 5,48 juta ton.

"Maka kami pemerintah turun tangan untuk berupaya mengatasi harga telur dengan melakukan penyerapan 1 juta telur. Agar mengembalikan stabilitas harga," katanya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah menyampaikan pada saat harga telur di bawah harga acuan maka pemerintah akan bergerak untuk menyerap komoditas tersebut. Penyerapan telur dari peternak rakyat akan dilakukan terus oleh Kementan hingga harga membaik.

"Hal yang terpenting, kita dapat berupaya mengurangi efek fluktuasi harga yang menekan harga telur dan merugikan peternak," kata Nasrullah.

Berdasarkan laporan Petugas Informasi Pasar (PIP) harga telur ayam ras ditingkat peternak di Pulau Jawa per 13 Oktober 2021 tercatat rata rata Rp15.943 per kg, harga terendah terjadi di Provinsi Jawa Timur rata-rata Rp13.333 per kg dan di Jawa Barat Rp16.719 per kg.

Menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 13 Oktober 2021, rata-rata harga jual telur di tingkat konsumen mencapai Rp23.100 per kh secara nasional. Namun harga telur di sejumlah wilayah terpantau berada di bawah rata-rata nasional.

Misalnya, di DKI Jakarta harga telur kini Rp19.000 per kg, Jawa Barat Rp18.900 per kg dan Jawa Timur Rp18.050 per kg. Selain itu, di Lampung kini harga telur Rp20.350 per kg, Jambi Rp19.850 per kg, dan Sulawesi Barat Rp18.150 per kg.

"Apabila dibandingkan dengan Permendag No. 7/2020 yang menyebutkan harga acuan penjualan telur di tingkat konsumen dipatok Rp24.000 per kilogram, maka beberapa daerah berada di bawah harga acuan," kata Nasrullah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian pertanian peternak
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top