Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

WA Kepala BKPM Banjir Pesan Soal Pembangunan Smelter di Papua

Kepala BKMP Bahlil mengaku sering mendapatkan masukan dari berbagai pihak seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin), asosiasi, organisasi kepemudaan dan adat, serta kelompok intelektual.
Truk diparkir di tambang terbuka tambang tembaga dan emas Grasberg di dekat Timika, Papua, pada 19 September 2015. /Antara Foto-Muhammad Adimaja
Truk diparkir di tambang terbuka tambang tembaga dan emas Grasberg di dekat Timika, Papua, pada 19 September 2015. /Antara Foto-Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengaku bahwa menerima banyak pesan singkat melalui ponsel pribadinya soal rencana pembangunan smelter di Papua.

Bahlil mengatakan banyak mendapatkan pesan terkait dengan rencana investasi fasilitas peleburan tembaga itu, melalui WhatsApp pribadinya.

"Menyangkut dengan investasi di Papua khususnya tentang smelter Freeport, saya punya WA itu terlalu banyak juga yang masuk menyangkut barang ini," ujar Bahlil pada konferensi pers, Rabu (27/10/2021).

Awalnya, Bahlil mengungkap bahwa dirinya mengikuti dinamika terkait dengan rencana investasi smelter untuk hasil tambahng tembaga Freeport, khususnya di Papua dan Papua Barat. Dia mengaku sering mendapatkan masukan dari berbagai pihak seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin), asosiasi, organisasi kepemudaan dan adat, serta kelompok intelektual.

Menurut Bahlil, berbagai pihak tersebut menanyakan alasan mengapa smelter didirikan di Gresik, bukan di Papua. Bahkan, Bahlil mengaku sering menerima protes.

"Protes, surat, itu banyak sekali. Bahkan, ada yang mengatakan kepada saya, 'Kakak, seperti kakak bukan dari Papua saja,'," cerita Bahlil.

Oleh sebab itu, Bahlil mengatakan sudah berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo terkait dengan aspirasi untuk membangun smelter di Papua. Sekarang, Kementerian Investasi/BKPM tengah merumuskan langkah-langkah komprehensif antara Kementerian BUMN dan PT Freeport Indonesia.

"Kami akan meningkatkan kapasitas produksi copper Freeport dari 3 juta menjadi 3,8 juta atau lebih, dan ini sudah kami komunikasikan ke Kementerian ESDM. Lebihnya itu ke depan, akan kami rencanakan [untuk] membangun smleter di Papua," jelas Bahlil.

Bahlil lalu berpesan agar pihak terkait bisa mendukung proses peningkatan kapasitas produksi Freeport ini untuk pembangunan smelter.

"Untuk teman-teman Papua, saya sudah memahami dan siap untuk diperjuangkan," pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dany Saputra
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper