Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penurunan Kasus Covid-19 Bikin Penjualan Jamu Melandai

Membaiknya kondisi pandemi Covid-19 di dalam negeri justru membuat industri jamu melandai. Kondisi masyarakat yang sudah sehat dinilai sebagai salah satu penyebab permintaan industri tersebut turun.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 11 Oktober 2021  |  16:39 WIB
Ilustrasi. Pekerja memilah sachet minuman energi bubuk Kuku Bima Energ-G di sepanjang conveyor di bagian pengemasan pabrik PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, Senin (10/2/2014). Bloomberg - Dimas Ardian
Ilustrasi. Pekerja memilah sachet minuman energi bubuk Kuku Bima Energ-G di sepanjang conveyor di bagian pengemasan pabrik PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, Senin (10/2/2014). Bloomberg - Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA – Membaiknya kondisi pandemi Covid-19 di dalam negeri justru membuat industri jamu melandai. Kondisi masyarakat yang sudah sehat dinilai sebagai salah satu penyebab permintaan industri tersebut turun.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Dwi Ranny Pertiwi mengatakan bahwa sampai dengan Agustus 2021, industri masih mencatatkan pertumbuhan permintaan meski kemudian turun pada bulan berikutnya.

Pada tahun lalu, kata dia, penjualan sempat menurun karena pengetatan pergerakan masyarakat. Kondisi itu berubah pada akhir 2020 hingga 2021, di mana penjualan mengalami kenaikan seiring dengan animo terhadap produk penunjang imunitas.

“Di 2021 mulai naik dan kemudian stabil. Naiknya sekitar 3–5 persen. Sekarang agak melandai karena orang banyak yang sudah sehat,” kata Dwi kepada Bisnis, Senin (11/10/2021).

Dia menuturkan, melonjaknya permintaan jamu karena pandemi sempat memunculkan kelangkaan bahan baku di pasaran. Kini, kendala tersebut sudah mulai teratasi dengan perluasan lahan tanaman obat atau peternakan bagi produsen yang memanfaatkan bahan hewani.

“Kalau nanti permintaan tidak banyak, ya kami berinovasi lagi membuat produk baru atau persiapan untuk ekspor,” ujarnya.

Terlebih, Dwi menyebut bahwa ada lebih dari 500 produk penunjang imunitas yang didaftarkan selama pandemic, termasuk jamu.

Pada tahun depan, dengan melihat situasi yang belum menentu, Dwi hanya mematok pertumbuhan penjualan jamu sebesar 5 persen.

“Kalau bisa stabil saja sudah Alhamdulillah, atau bisa dapat lima persen [pertumbuhan],” kata Dwi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

produksi jamu
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top