Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tingkatkan Elevasi Tol Semarang—Demak, Kementerian PUPR Gunakan Limbah PLTU

FABA merupakan hasil pembakaran batu bara dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta kegiatan lainnya yang tidak lagi dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 25 Agustus 2021  |  18:08 WIB
Tingkatkan Elevasi Tol Semarang—Demak, Kementerian PUPR Gunakan Limbah PLTU
Aktivitas konstruksi di proyek jalan tol Semarang-Demak, proyek jalan tol yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh PT PP (Persero) Tbk. - Instagram @tol_semarang_demak

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan akan menggunakan fly ash bottom ash (FABA) sebagai bantalan untuk menaikkan elevasi di konstruksi Jalan Tol Semarang—Demak.

Seperti diketahui, FABA merupakan hasil pembakaran batu bara dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta kegiatan lainnya yang tidak lagi dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Direktur Bina Teknik Jalan dan Jembatan Kementerian PUPR Nyoman Suayarna mengatakan bahwa secara spesifik pihaknya akan menggunakan bottom ash di proyek Tol Semarang—Demak.

“Di situ [sekitar proyek Tol Semarang—Demak] ada [pembangkit listrik] PLN. Produknya [FABA] agak banyak. Daripada menumpuk tidak termanfaatkan, ya dimanfaatkan sehingga [biaya konstruksi] bisa lebih ekonomis,” katanya kepada Bisnis, Rabu (25/8/2021).

Meski akan menerapkan di Tol Semarang—Demak, Suaryana belum berencana untuk menggunakan FABA di proyek jalan nasional lainnya.

Alasannya, penggunaan FABA masih lebih banyak disorot dari persoalan lingkungan, bukan penguatan konstruksi jalan nasional.

Seperti diketahui, konstruksi Tol Semarang—Demak terbagi menjadi dua seksi, yakni Seksi 1 Semarang/Kaligawe—Sayung (10,39 kilometer), dan Seksi 2 Sayung—Demak (16,31 Kilometer.

Adapun, konstruksi Seksi 1 akan dilakukan oleh pemerintah, sedangkan konstruksi Seksi 2 oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak.

Pengerjaan Seksi 1 baru akan dimulai pada 2022 dan dijadwalkan rampung pada 2024. Sementara itu, perkembangan konstruksi yang dilakukan BUJT Tol Semarang—Demak telah mencapai 41.63 persen pada Semester I/2021, dan dijadwalkan selesai pada Juni 2022.

Total investasi yang dibenamkan pada proyek tersebut sebesar Rp15,3 triliun, dengan biaya pembebasan lahan yang mencapai Rp6,8 triliun.

Keberadaan tol Semarang—Demak dinilai akan meningkatkan konektivitas di wilayah Jawa Tengah bagian utara.

Selain itu, jalan tol tersebut juga dapat menghubungkan kawasan-kawasan strategis, seperti pelabuhan, bandara, kawasan industri, dan kawasan pariwisata, khususnya Demak sebagai kawasan wisata religi

Sebelumnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah di Jawa Tengah untuk menyiapkan program relokasi lahan mangrove yang berada di sekitar pembangunan Seksi 1 Tol Semarang—Demak ruas Semarang—Sayung.

Secara total, akan ada tiga lokasi kawasan mangrove yang akan direlokasi.

Basuki berpendapat, kawasan mangrove dapat membantu membentuk penghalang alami terhadap gelombang badai dan banjir.

Pasalnya, sedimen sungai dan darat terperangkap oleh akar yang melindungi daerah garis pantai dan memperlambat erosi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kementerian PUPR tol semarang-demak
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top