Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kasus Beras Bansos Rusak, Pengamat Sebut Wajar

Beras rusak sendiri ditemukan pada 3 paket beras bansos yang disalurkan di wilayah Pandeglang, Banten. Volumenya setara 30 kilogram.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 12 Agustus 2021  |  17:01 WIB
Kasus Beras Bansos Rusak, Pengamat Sebut Wajar
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Perum Bulog kembali tersandung masalah kualitas beras usai sejumlah paket beras bantuan sosial (bansos) PPKM ditemukan dalam kondisi rusak dan tidak bisa dikonsumsi. Meski demikian, pengamat menilai kerusakan pada beras yang didistribusikan adalah hal yang wajar.

Beras rusak sendiri ditemukan pada 3 paket beras bansos yang disalurkan di wilayah Pandeglang, Banten. Volumenya setara 30 kilogram, sementara total beras yang disalurkan Bulog dalam program bansos PPKM adalah sebesar 200.000 ton untuk 20 juta KPM pada tahap pertama.

“Jumlahnya tidak signifikan, tidak sampai satu persen. Ini bisa dimaklumi dan wajar,” kata pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori, Kamis (12/8/2021).

Kerusakan beras dalam distribusi, kata Khudori, kerap ditemui. Dia juga tidak berani menduga-duga soal kemungkinan beras rusak tersebut merupakan stok lama.

Menurutnya, Bulog akan cenderung berhati-hati dalam menjamin kualitas beras mengingat penugasan seperti ini tidak selalu ada dan merupakan peluang bagi perusahaan tersebut untuk menyalurkan stok yang disimpan. 

“Soal beras stok lama, saya tidak berani menduga-duga. Penugasan semacam ini tidak selalu ada dan Bulog juga memerlukannya agar stoknya bisa segera keluar dengan lancar. Seperti bunuh diri saja jika Bulog main-main dengan kualitas yang disalurkan,” ujar Khudori.

Di luar penugasan, kanal penyaluran beras Bulog memang hanya terbatas pada kegiatan penyaluran dan stabilitas harga (KPSH) alias operasi pasar dan penyaluran darurat untuk bencana. Rata-rata volume yang disalurkan adalah 80.000 ton per bulan.

Namun dengan kondisi pasar beras yang lesu selama pandemi dan harga yang stabil, penyaluran KPSH Bulog juga cenderung lebih rendah dalam beberapa bulan terakhir.

Direktur Utama PT Pos (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi mengatakan bahwa kerusakan beras terjadi ketika proses perpindahan dari kendaraan pengangkut.

“Kami sudah mencoba untuk perpindahan itu sebaik mungkin, 30 kilogram beras itu dari total 200.000 ton yang disalurkan,” kata Faizal.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso memastikan bahwa beras yang disalurkan merupakan beras berstatus cadangan beras pemerintah (CBP) dengan kualitas medium. Penyaluran beras, kata dia, sudah mengikuti standar pengecekan rice to rice dan disimpan oleh mitra perusahaan.

“Kami punya mitra yang menyimpan beras-beras kita. Ada satu penggilingan swasta yang kerja sama dan beras tersebut baru digiling ketika dibutuhkan. Betul dari situ. Bukti kontrak, bukti pengeluaran semua ada,” kata Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Beras Bulog PPKM
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top