Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Petrokimia Tetap Melaju di Tengah Pandemi

Menurut Inaplast, dampak pandemi terhadap industri petrokimia, hanya terjadi pada 3 bulan pertama, setelah itu industri mampu recovery.
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 25 Mei 2021  |  10:06 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang memastikan langsung proyek revamping di PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, 8 Oktober 2020. Pembangunan proyek ini perlu diakselerasi karena akan mendukung program substitusi impor dan penguatan struktur di sektor industri petrokimia.  - Kemenperin
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang memastikan langsung proyek revamping di PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, 8 Oktober 2020. Pembangunan proyek ini perlu diakselerasi karena akan mendukung program substitusi impor dan penguatan struktur di sektor industri petrokimia. - Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja industri petrokimia yang merupakan salah satu sektor prioritas tetap tumbuh positif di tengah pandemi Covid-19.

Menurut Kemenperin, kinerja industri petrokimia tetap tumbuh positif dengan utilisasi 95 persen karena termasuk industri yang mampu menyubstitusi produk impor.

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mencatat, sebanyak 55 persen bahan baku produk petrokimia masih impor. Menurut Inaplast, dampak pandemi terhadap industri petrokimia, hanya terjadi pada 3 bulan pertama, setelah itu industri mampu recovery.

Kinerja positif tersebut juga ditunjukan oleh perusahaan petrokimia milik negara, PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) dan anak usaha. Berbagai rencana pengembangan bisnis TubanPetro Group, tetap berjalan on the track.

Bahkan, pandemi menjadi ’’berkah’’ bagi anak usaha TubanPetro, yakni PT Polytama Propindo dan PT Petro Oxo Nusantara yang mampu meningkatkan penjualan hingga periode 31 Maret 2021.

Polytama Propindo berhasil meraih penjualan sebesar US$87,07 juta atau naik dari US$53,23 juta di periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan Petro Oxo Nusantara meraih penjualan sebesar US$40,58 juta atau naik dari US$30,83 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Presiden Direktur PT Polytama Propindo Didik Susilo menyampaikan kinerja positif yang diraih Polytama diperoleh seiring naiknya permintaan produk polypropylene yang banyak digunakan untuk bahan dasar alat kesehatan seperti alat pelindung diri (APD), dan masker, di samping masih belum lancarnya supply chain dari polypropylene impor.

Produksi Polytama pada tahun 2020 mencapai 233.971 ton, meningkat 3,95 persen dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar 225.089 ton. Pencapaian ini disebabkan oleh naiknya permintaan, di samping peningkatan kapasitas terpasang menjadi 300.000 ton/tahun.

Peningkatan kapasitas tersebut seiring dengan selesainya proyek peningkatan kapasitas di area polimerisasi (bulk) dan penambahan extruder serta seluruh fasilitas pendukung yang diselesaikan pada  akhir 2019.

’’Polytama dapat melalui masa pandemi 2020 dengan membukukan laba komprehensif sebesar US$ 15,2 juta dan EBITDA sebesar US$20,85 juta, lebih besar dari RKAP 2020 masing-masing sebesar US$ 2,9 juta dan US$17,9 juta,’’ ujar Didik, dalam siaran pers, Selasa (25/5/2021).

Dalam memenuhi permintaan pasar dan kebutuhan konsumen, Polytama secara konsisten melakukan inovasi dalam proses produksi dan pengembangan produk. Inovasi yang dilakukan pada 2020 adalah mengganti sebagian bahan bakar boiler dari industrial diesel oil menjadi gas alam yang akan menghemat biaya produksi.

Anak usaha TubanPetro yang lain, yaitu Petro Oxo Nusantara (PON), juga mampu mempertahankan kinerja seiring dengan permintaan produk 2-EH, khususnya mulai semester kedua 2020 karena kenaikan permintaan produk-produk kesehatan untuk APD, terutama sarung tangan. Pembalikan tren harga (rebound) baru terjadi mulai November 2020 dengan delta P jauh d iatas normal.

Presiden Direktur PON Jaya Martapa menyampaikan, bahwa kapasitas produksi 150.000 ton untuk Ethyl Hexanol dan Isobutanol menjadikan PON sebagai produsen terbesar di Indonesia, dengan penjualan 80 persen ekspor. PON juga berencana diversifikasi produk dengan menggantikan produk Iso-Butyl Alcohol (IBA) menjadi Neo Pentyl Glycol (NPG) telah dimulai oleh PON dengan menyelesaikan Pra Feasibility Study di akhir 2020.

Direktur Utama PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) Sukriyanto menambahkan, agar kinerja semakin baik di masa depan, TubanPetro dengan didukung PT Kilang Pertamina International dan PT Pertamina Persero, telah mendorong anak-anak usahanya untuk menyusun dan mengeksekusi beberapa rencana pengembangan, antara lain proyek revamping di PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) guna meningkatkan kapasitas produksi TPPI saat ini. Pengembangan Pabrik Olefin TPPI juga terus berjalan.

Untuk Proyek Pembangunan Pabrik Polypropylene II (Balongan), PT Polytama Propindo (Polytama) telah menyusun pra Feasibility Study maupun penyiapan strategi eksekusinya.

Sementara, proyek pembangunan pabrik Neopentyl Glycol (NPG), PT Petro Oxo Nusantara (PON) telah menyusun pra Feasibility Study maupun penyiapan pendanaannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia kemenperin industri pengolahan inaplas
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top