Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vaksinasi Taiwan Lambat, Pasokan Chip Dunia Dalam Bahaya

Beijing disebut telah menggunakan tekanan politik untuk menggagalkan rencana Taiwan membeli lima juta dosis langsung dari BioNTech SE Jerman.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 24 Mei 2021  |  10:40 WIB
Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang.  - nspp.mofa.gov.tw
Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang. - nspp.mofa.gov.tw

Bisnis.com, JAKARTA - Kelangkaan chip semikonduktor yang tengah melanda dunia kemungkinan akan semakin parah jika Taiwan, produsen utama semikonduktor global, tak segera mendapat dosis vaksin yang memadai.

Pada Februari lalu, ketika dunia sedang mencari jalan agar Taiwan dapat membantu mengatasi kekurangan semikonduktor, menteri kesehatan berselisih dengan China terkait vaksin Covid-19.

Beijing, menurutnya, telah menggunakan tekanan politik untuk menggagalkan rencana Taiwan membeli lima juta dosis langsung dari BioNTech SE Jerman, daripada melalui perusahaan China yang memegang hak untuk mengembangkan dan memasarkan vaksin BioNTech-Pfizer Inc. di seluruh China, Hong Kong , Makau dan Taiwan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying membalas bahwa Taipei harus berhenti mengangkat masalah politik dengan dalih masalah vaksin.

Tiga bulan kemudian, kekurangan vaksin di Taiwan berbuah lonjakan kasus virus yang mengancam akan memicu penguncian. Setelah berhasil menghindari gelombang Covid pertama, pemerintah sekarang menghadapi keadaan darurat kesehatan. Sejauh ini hanya sekitar 1 persrmen dari populasinya yang divaksinasi, dengan potensi untuk mengganggu industri chip yang mendominasi ekonomi lokal dan sangat penting bagi pasokan global.

Kesulitan Taiwan menggambarkan posisinya yang strategis tetapo rentan terhadap ketegangan AS-China.

Awal tahun lalu kekurangan chip yang telah membuat berbagai industri pincang mulai dari otomotif hingga game komputer tampaknya memberikan pengaruh global bagi Taipei. Taiwan Semiconductor Manifacturing Co. (TSMC) adalah penyedia semikonduktor terdepan di dunia dan memegang 56 persen dari bisnis pengecoran chip manufaktur yang dirancang oleh pelanggan termasuk Apple Inc. dan Qualcomm Inc.

"Saya pikir kita telah menjadi terlalu bergantung pada Taiwan dan Korea, itulah intinya, kita membutuhkan rantai pasokan global yang lebih seimbang," kata CEO produsen chip terbesar dunia Intel Corp Pat Gelsinger, dilansir Bloomberg, Senin (25/5/2021).

Dia melanjutkan, AS dan Eropa harus bertindak lebih agresif untuk melawan ketidakseimbangan keunggulan Asia dalam pembuatan semikonduktor yang sebagian besar dikonsumsi di barat.

Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo mengatakan bahwa sementara pemerintahan Biden bekerja sama dengan Taipei dan TSMC untuk mengatasi kekurangan chip, mereka juga berupaya mengurangi ketergantungan AS pada Taiwan. TSMC sedang dalam proses membangun fasilitas fabrikasi baru di AS.

Dengan prospek pendanaan pemerintah sekitar US$50 miliar untuk membangun pembuatan chip di AS dan janji akan lebih banyak lagi di Eropa dan Korea Selatan, ada tanda-tanda bahwa Taiwan mulai merasakan panasnya.

"Taiwan mendominasi manufaktur semikonduktor, dan satu perusahaan, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company, secara virtual mengontrol pasar," kata Senator John Cornyn, seorang anggota partai Republik dari Texas.

Keberlanjutan industri Taiwan juga dipertanyakan setelah mengalami pemadaman listrik bulan ini, dengan memusatkan perhatian pada faktor lingkungan termasuk kekurangan air dan ketidakpastian atas pasokan listrik di masa depan untuk pabrik chip yang haus daya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

semikonduktor Vaksin Covid-19
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top