Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kenaikan Laju Inflasi Bulan Ramadan Terbatas, Ini Penjelasan Ekonom

Sejumlah ekonom memprediksi, kenaikan inflasi pada Ramadan tahun ini terbatas se­jalan dengan belum terkendalinya Covid-19.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 03 Mei 2021  |  05:48 WIB
Pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). -  ANTARA / Sigid Kurniawan
Pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). - ANTARA / Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kebijakan pengetatan pembatasan sosial kegiatan masyarakat serta larangan mudik Lebaran yang telah diputuskan oleh pemerintah bakal menjadi penghambat laju inflasi sepanjang bulan lalu.

Padahal, momentum Ramadan selalu menjadi pengerek laju inflasi di Indonesia. Sejumlah ekonom memprediksi, kenaikan inflasi pada Ramadan tahun ini terbatas se­jalan dengan belum terkendalinya Covid-19.

Ekonom BCA David Sumual memperkirakan inflasi April 2021 sekitar 0,16 persen secara month-to-month (mom), lebih tinggi diban­ding­kan dengan Maret 2021 yaitu 0,08 persen.

Sementara itu, inflasi tahunan April 2021 diprediksi 1,45 persen year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan April 2020 sebesar 1,37 persen.

Meski demikian, David menilai inflasi pada Ramadan kali ini tidak setinggi Ramadan pada sebelum pandemi. Hal tersebut disebabkan oleh larangan mudik Lebaran dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat berbasis mikro.

“Ini ada kaitannya dengan mobilitas juga. Ada larangan mudik, jadi biasanya biaya transportasi itu yang naik kencang,” jelas David kepada Bisnis, Minggu (2/5).

Ekonom Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, adanya pengecualian aktivitas selama pembatasan sosial dan mudik Lebaran pada tahun ini tidak akan terlalu signifikan mengerek inflasi.

Persoalannya terletak pada sisi permintaan, di mana tingkat permintaan yang rendah membuat inflasi juga masih rendah. Meskipun mobilitas makin tinggi, masyarakat belum tentu melakukan kegiatan belanja lebih besar dibandingkan dengan sebelum pandemi.

“Refleksi dari inflasi yang rendah padahal sudah masuk bulan Ramadan ini menandakan bahwa dari sisi konsumsi belum ada dorongan yang cukup kuat untuk mendorong perekonomian,” ujarnya.

Sementara itu, Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia (BI) pada minggu kelima April 2021 mencatat perkembangan harga pada bulan April 2021 diperkirakan inflasi sebesar 0,18 persen (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi April 2021 secara tahun kalender sebesar 0,63 persen (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,47 persen (yoy).

Dari catatan BI, penyumbang utama inflasi April 2021 sampai dengan minggu kelima yaitu komoditas daging ayam ras, jeruk, minyak goreng, daging sapi, dan emas perhiasan. Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain cabai rawit, bawang merah, kangkung, bayam, beras dan tomat.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Ramadan Covid-19
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top