Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPJT Usul Cara Hitung Tarif Tol Diubah, Akan Lebih Mahal atau Murah?

Berdasarkan data BPJT, jumlah transaksi harian pada 2021 diperkirakan naik sekitar 17,64 persen secara tahunan menjadi 4 juta transaksi. Adapun, transaksi harian pada 2020 anjlok 26,08 persen secara tahunan dari 4,6 juta pada 2019 menjadi 3,4 juta.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 24 Maret 2021  |  20:05 WIB
Ilustrasi Jalan Tol Cikampek-Jakarta.  - ANTARA
Ilustrasi Jalan Tol Cikampek-Jakarta. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menyatakan harus ada perubahan perhitungan penyesuaian tarif pada tahun ini. Di samping itu, regulator menilai harus ada perubahan struktur pendanaan mulai tahun ini.

Kepala BPJT Danang Parikesit mengatakan penentuan tarif kini tidak bisa dihitung berdasarkan ruas jalan tol. Menurutnya, perhitungan tarif pada tahun ini harus berubah menjadi berdasarkan jaringan jalan tol. Namun belum diberikan gambaran lebih rinci mengenai usulan tersebut. 

"Akhir tahun ini kami akan menyelesaikan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) II [yang menyambungkan kawasan] dari Cengkareng sampai Cilincing. Kita tidak bisa lagi bicara tarif per ruas, kita harus bicara tarif per jaringan [jalan tol]," ucapnya dalam webinar "Mengupas Tuntas Kebijakan Jalan Tol", Rabu (24/3/2021).

Berdasarkan data BPJT, jumlah transaksi harian pada 2021 diperkirakan naik sekitar 17,64 persen secara tahunan menjadi 4 juta transaksi. Adapun, transaksi harian pada 2020 anjlok 26,08 persen secara tahunan dari 4,6 juta pada 2019 menjadi 3,4 juta.

Sementara itu, volume transaksi pada tahun ini diprediksi naik 17,24 persen secara tahunan menjadi Rp22,5 triliun. Volume transaksi pada 2020 anjlok 8,7 persen menjadi Rp19,19 triliun dari realisasi tahun sebelumnya senilai Rp21,02 triliun.

Dengan kata lain, BPJT meramalkan jumlah transaksi harian pada tahun ini belum akan kembali normal, namun demikian volume transaksi tahunan akan lebih besar dari posisi pra-pandemi. Hal tersebut disebabkan oleh kontribusi kendaraan golongan II-IV yang diproyeksi menigkat pada tahun ini menjadi 14,1 persen.

Danang mencatat saat ini pendapatan badan usaha jalan tol (BUJT) mayoritas berasal dari tarif pengendara atau hingga 95 persen. Sementara itu, sekitar 5 persen berasal dari pengelolaan tempat istirahat pengendara (TIP) atau rest area.

Danang menyatakan pihaknya akan mendorong BUJT untuk meningkatkan peran TIP dalam struktur pendapatan pada tahun ini. Danang menargetkan TIP dapat berkontribusi sekitar 10-15 persen dari struktur pendapatan masing-masing BUJT di dalam negeri.

BPJT meramalkan akan ada tambahan sekitar tambahan 12 TIP pada tahun ini yang membuat total TIP di dalam negeri menjadi 126 unit. Adapun, angka tersebut akan terus bertambah hingga 2024 menjadi 159 unit.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

infrastruktur jalan tol tarif tol
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top