Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Percepat Pembangunan Smelter, Ini Strategi Kementerian ESDM

Pemerintah menyadari pembangunan proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral menghadapi sejumlah kendala
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018)./JIBI-Nurul Hidayat
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018)./JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyusun program quick win dengan mekanisme market sounding untuk memfasilitasi pembangunan smelter.

Koordinator Perencanaan Produksi dan Pemanfaatan Minerba Kementerian ESDM Cecep M Yasin mengatakan bahwa pemerintah menyadari pembangunan proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral menghadapi sejumlah kendala.  Oleh karena itu, Kementerian ESDM berupaya memfasilitasi agar pembangunan smelter dapat berjalan sesuai dengan rencana.

Upaya tersebut dilakukan dalam tiga tahap.  Tahap pertama, melakukan penyusunan info memo perusahaan smelter untuk ditawarkan kepada para calon investor dan calon pendana.

"Tahap kedua, kami dari Minerba mencoba memfasilitasi dalam pelaksanaan kerja sama dengan MKU Services LLC di Houston, Amerika Serikat, dalam rangka market sounding untuk mencari investor," ujar Cecep dalam webinar Masa Depan Pertambangan Indonesia, Rabu (17/3/2021).

Kementerian ESDM juga melakukan koordinasi dengan Kemenko Perekonomian dengan mengusulkan smelter menjadi proyek strategis nasional (PSN), sehingga kendala dari sisi administrasi dapat lebih cepat terselesaikan.  

Kemudian tahap ketiga, market sounding akan dilakukan pada 2021 ke Amerika Serikat, Uni Eropa, Asia, dan lainnya.  Pemerintah akan mengikuti forum bisnis atau event internasional dalam rangka promosi proyek pembangunan smelter.

Dari sisi regulasi, pemerintah telah menerbitkan Permen ESDM Nomor 17 Tahun 2020 di mana perusahaan smelter dapat melakukan perubahan kurva-S rencana pembangunan fasilitas smelter hingga 2023.

Sampai dengan 2020, realisasi jumlah smelter yang beroperasi mencapai 19 unit. Jumlah tersebut terdiri atas 13 smelter nikel , 2 smelter bauksit, 1 smelter besi ,  2 smelter tembaga, dan 1 smelter mangan.  Sedangkan tahun ini ditargetkan ada tambahan empat smelter yang beroperasi.  Pembangunan smelter ini ditargetkan terus meningkat hingga mencapai total 53 smelter pada 2024

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin meminta para pelaku usaha pertambangan tidak banyak mengeluh dalam mematuhi aturan kewajiban melakukan hilirisasi.

"Harapan saya ke pelaku usaha mari kita buktikan niat kita sudah sama, mari hilirisasi.  Hilirisasi ini perlu modal.  Begitu perlu modal jangan dipertentangkan lagi, 'Pak, kalau mau bangun smelter untungnya kecil, kami mau ekspor mentah aja'.  Itu namanya enggak amanah dengan cita-cita," kata Ridwan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper