Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penumpang Garuda (GIAA) Anjlok, Imbas PPKM Mikro Hingga Kasus Sriwijaya

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menuturkan jumlah penumpang pada akhir 2020 sudah membaik seiring terdapatnya musim puncak angkutan libur akhir tahun. Namun, PPKM mikro di awal tahun membuat jumlah penumpang kembali anjlok.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  18:03 WIB
Ilustrasi. Pramugari Garuda Indonesia. - garuda/indonesia.com
Ilustrasi. Pramugari Garuda Indonesia. - garuda/indonesia.com

Bisnis.com, JAKARTA - Adanya penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro membuat jumlah penumpang maskapai PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) anjlok. Perseroan pun menanti dampak dari vaksinasi yang meningkatkan kepercayaan diri masyarakat bepergian.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menuturkan jumlah penumpang pada akhir 2020 sudah membaik seiring terdapatnya musim puncak angkutan libur akhir tahun. Namun, PPKM mikro di awal tahun membuat jumlah penumpang kembali anjlok.

"Awal tahun berlangsung ada pembatasan mikro dari pemerintah maupun kasus maskapai teman kita Sriwijaya plus ada low season Januari-Februari memang penumpang jarang terbang. Kami alami kondisi yang memukul, kami balik ke kondisi September-Oktober," ujarnya, Rabu (24/2/2021).

Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah penerbangan hanya 140 per hari, jumlah penumpang sekitar 10.000 penumpang. Dengan jumlah ini membuat pemulihan perseroan menjadi semakin sulit, padahal inisiatif perseroan sudah mencapai titik optimum.

Emiten bersandi GIAA ini harus menerapkan strategi yang berbeda dengan rencana awal tahun setelah faktanya penumpang penerbangan turun cukup dalam selama 2 bulan ini.

"Agak berbeda dengan strategi kita di tahun 2021, kita harus bersabar dengan recovery ini, kami harus percaya dengan vaksinasi tingkat confidence publik meningkat tapi memang aturan antigen membuat penumpang tidak nyaman. Berangkat (test) antigen, pulang antigen lagi," urainya.

Kebijakan antigen ini pun membuat terjadinya penurunan penumpang. Namun, kabar dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang mulai 1 April 2021 dapat menggunakan GeNose sebagai pengganti rapid test antigen diharapkan dapat memudahkan penumpang.

"Ya jadi kami lihat akhir tahun 2020 kita sangat optimis dengan apa yang terjadi di industri penerbangan ini, walaupun stakeholders penerbangan itu selalu mengingatkan kepada calon penumpang untuk melakukan perjalanan atau berlibur itu tak menambah jumlah yang terpapar," katanya.

Pada peak season akhir tahun 2020, jumlah penumpang GIAA mencapai 24.000 penumpang per hari dengan lebih dari 300 penerbangan per hari, termasuk internasional. Jumlah tersebut mendekati penerbangan normal sebelum pandemi dengan angka 500 penerbangan per hari dengan jumlah penumpang mencapai 50.000 orang per harinya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesawat Garuda Indonesia maskapai penerbangan Vaksin Covid-19
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top