Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permintaan Listrik PLTU di India Terus Turun Dalam 2 Tahun Terakhir

Permintaan listrik di India yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara terus menurun sejak mencapai puncaknya pada 2018.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  18:23 WIB
Gunung Himalaya terlihat dari jarak 200km untuk pertama kalinya dalam 30 tahun pada 4 April 2020, bersamaan dengan lockdown di India yang menurunkan tingkat polusi udara. (ANTARA/Twitter - @khawajaks)
Gunung Himalaya terlihat dari jarak 200km untuk pertama kalinya dalam 30 tahun pada 4 April 2020, bersamaan dengan lockdown di India yang menurunkan tingkat polusi udara. (ANTARA/Twitter - @khawajaks)

Bisnis.com, JAKARTA — Permintaan listrik di India yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara terus menurun sejak mencapai puncaknya pada 2018.

Laporan lembaga kajian energi asal Inggris, Ember, menyebutkan bahwa permintaan listrik dari PLTU di India turun 5 persen pada 2020. Penurunan disebabkan berkurangnya permintaan listrik tahunan secara signifikan akibat dampak dari lockdown karena Covid-19.

"Ini adalah tahun kedua berturut-turut penurunan energi dari batu bara, dengan PLTU batu bara turun 8 persen pada tahun 2020 dibandingkan dengan 2018. Namun demikian, batu bara masih tetap menjadi sumber listrik dominan yang menghasilkan 71 persen listrik India pada tahun 2020," ujar Analis Senior Ember Aditya Lolla melalui siaran pers, Selasa (16/2/2021).

Studi yang menganalisis data baru dari Otoritas Pusat Listrik India tersebut menunjukkan bahwa listrik dari batu bara turun sebesar 51 terrawatt hour (TWh) atau turun 5 persen pada 2020. Hal ini disebabkan adanya penurunan permintaan listrik secara keseluruhan sebesar 36 TWh (3 persen) dan peningkatan pembangkit listirk tenaga surya sebesar 12 TWh (3 persen).

Saat permintaan listrik dari PLTU batu bara mengalami penurunan dan kapasitas PLTU batu bara terus meningkat, faktor beban pembangkit batu bara (coal plant load factor) India turun ke rekor terendah, yaitu 53 persen pada 2020.

Laporan Ember menunjukkan bahwa PLTU batu bara India akan terus stabil pada dekade ini jika permintaan listrik secara struktural dipengaruhi oleh Covid-19. Dengan permintaan listrik diproyeksikan hanya mencapai 4—5 persen per tahun hingga 2030, diperkirakan hanya akan ada sedikit peningkatan sebesar 52 TWh dalam PLTU batu bara pada 2030.

Analisis ini mengambil data dari Badan Energi Internasional (Internasional Energy Agency) dan menunjukkan bahwa laporan India Energy Outlook 2021 baru-baru ini mendukung kesimpulan bahwa PLTU batu bara akan stabil dan bahkan bisa jatuh dalam dekade ini.

Gambaran situasi baru ini menempatkan India pada jalur yang lebih ramah iklim. Namun, laporan Ember mengungkapkan bahwa kondisi ini bergantung pada India yang menargetkan peningkatan pembangkit listrik tenaga angin dan matahari pada 2022, di mana saat itu diproyeksikan akan membutuhkan lebih dari dua kali lipat kapasitas pada 2020 (118 TWh).

“Tampaknya semakin besar kemungkinan bahwa PLTU batu bara akan stabil pada tahun 2020-an di India. Namun, masih ada risiko India bisa terlempar keluar jalur. Saat India pulih dari guncangan pandemi Covid-19, pilihan yang dibuatnya dalam dekade berikutnya menjadi sangat penting, apakah akan membuat atau menghancurkan transisi energi PLTU batu bara menjadi energi bersih. Sekarang fokusnya harus pada membangun kapasitas pembangkit surya dan angin baru yang cukup untuk memenuhi permintaan listrik yang meningkat,” kata Aditya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india pltu
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top