Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi di China Kembali Dapatkan Momentum pada Desember

Biro Statistik Nasional mencatat indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik 0,2 persen bulan lalu dari tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), menyusul penurunan 0,5 persen pada November.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  14:05 WIB
Pekerja mengenakan masker di pabrik milik Yanfeng Adient Seating Co. di Shanghai, China, Senin (24/2/2020). - Bloomberg/Qilai Shen
Pekerja mengenakan masker di pabrik milik Yanfeng Adient Seating Co. di Shanghai, China, Senin (24/2/2020). - Bloomberg/Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA – Laju inflasi di China kembali mendapatkan momentum pada bulan Desember 2020 setelah sempat turun pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, Biro Statistik Nasional mencatat indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik 0,2 persen bulan lalu dari tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), menyusul penurunan 0,5 persen pada November.

Perkiraan median dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom adalah 0 persen. Di sisi lain, deflasi sisi produksi menyempit, dengan indeks harga produsen (producer price index/PPI) mencatat penurunan 0,4 persen, dibandingkan dengan penurunan 1,5 persen pada November.

Peningkatan inflasi sebagian besar didorong oleh kenaikan biaya makanan. Harga daging babi, komoditas utama yang menyumbang CPI China, mencatat penurunan yang lebih kecil sebesar 1,3 persen bulan lalu. Harga anjlok 12,5 persen pada November setelah persediaan babi pulih dari penyakit babi di tahun sebelumnya.

"Data inflasi Desember, terutama setelah menyesuaikan dengan inflasi harga daging babi yang tidak stabil, tidak menunjukkan adanya risiko inflasi atau deflasi yang signifikan, jadi kami memperkirakan tidak ada respons kebijakan dari Beijing," tulis ekonom Nomura Holdings Inc. yang dipimpin oleh Ting Lu, seperti dikutip Bloomberg.

Selain makanan, harga energi juga meningkat karena China mengalami musim dingin yang parah yang telah meningkatkan permintaan listrik.

Sementara itu, angka CPI inti yang menghilangkan komponen harga makanan dan energi yang lebih tidak stabil, turun menjadi 0,4 persen setelah tetap stabil di 0,5 persen selama beberapa bulan.

Ekonom Bloomberg untuk wilayah China David Qu mengatakan CPI utama mungkin turun kembali ke deflasi karena harga pangan melanjutkan tren penurunan saat cuaca dingin berlalu.

“Meskipun demikian, kami memperkirakan fluktuasi harga tidak banyak berpengaruh pada keputusan bank sentral untuk mulai menormalisasi kebijakannya tahun ini," ungkap Qu.

Pemulihan ekonomi masih berada di jalurnya pada bulan Desember sambil menunjukkan tanda-tanda stabilitas. Baik indeks manajer pembelian manufaktur dan non-manufaktur turun, tetapi ekonom mengatakan momentum pertumbuhan tetap solid.

Wabah virus korona baru-baru ini di Shijiazhuang dan kasus di seluruh negeri, dapat membebani prospek pertumbuhan dan inflasi jika pembatasan diperluas. Untuk saat ini, dampaknya pada ekonomi yang lebih luas dipandang masih terbatas.

Sementara itu, People’s Bank of China telah mengisyaratkan keinginannya untuk secara bertahap mengurangi laju pertumbuhan kredit guna menstabilkan tingkat utang dalam perekonomian, namun bank sentral menghindari perubahan tajam dalam arah kebijakan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi china indeks harga konsumen ekonomi china consumer price index
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top