Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kontrol 30 Persen Nikel Dunia, Jokowi Ingin Fokus Bangun Industri Hilir

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menegaskan bakal berfokus pada pengembangan industri hilir nikel menjadi baterai lithium selama sisa masa jabatannya.
Presiden Joko Widodo. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. - Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. - Youtube Sekretariat Presiden

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo atau Jokowi menegaskan bakal berfokus pada pengembangan industri hilir nikel menjadi baterai lithium selama sisa masa jabatannya.

Hal itu diungkapkan Jokowi saat memberi kata sambutan dalam perayaan HUT ke-48 PDIP secara virtual pada Minggu (10/1/2021).

“Ke depan kita ingin mengolah biji nikel menjadi baterai lithium yang dapat digunakan untuk ponsel dan mobil listrik. Semua upaya tersebut akan menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan baru sekaligus berkontribusi pada pengembangan energi masa depan,” kata Jokowi.

Fokus itu, menurut dia, berdasarkan pada posisi Indonesia yang hampir menguasai 30 persen produksi nikel secara global. Di sisi lain, dia menggarisbawahi, cadangan nikel dalam negeri saat ini sebanyak 25 persen dibandingkan dengan cadangan dunia.

“Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, 25 persen cadangan nikel dunia ada di Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 21 juta ton. Sehingga, Indonesia mengontrol hampir 30 persen produksi nikel global,” kata dia.

Dengan demikian, Indonesia mesti memasuki fase baru untuk menggunakan baterai lithium sebagai komponen utama kendaraan listrik pada masa depan. “Ini merupakan sebuah kesempatan yang besar untuk bisa masuk dalam industri otomotif, electric vehicle, semuanya akan pindah ke sana,” kata dia.

Sebelumnya, Dosen Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Bagas Pujilaksono Widyakanigara mengatakan sudah seharusnya pemerintah memikirkan nikel secara komprehensif, bukan hanya fokus ke mobil listrik.

Menurut Bagas, pemerintah harus lebih konprehensif untuk memanfaatkan sumber daya nikel yang dimiliki. Jika nikel hanya dibuat baterai untuk mobil listrik, maka hasilnya tidak seberapa dibandingkan dengan jika dibikin sebagai alloying element pada pembuatan baja tahan karat, baja untuk keperluan khusus atau Ni base superalloy.

“Hasil hitungan sederhana saya, pemerintah akan memperoleh masukan keuangan jauh lebih banyak jika membangun industri metalurgi dibandingkan baterai mobil listrik. Sebab, life cycle and price dari produk,” katanya dalam keterangan pers, Rabu (6/1/2021).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Fatkhul Maskur
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper