Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gelombang Kedua Tekan Pengeluaran, Tokyo Alami Deflasi pada Desember

indeks harga konsumen (IHK) Tokyo tercatat turun 1,3 persen pada bulan Desember 2020. Sementara itu, IHK inti, yang tidak termasuk makanan segar turun 0,9 persen, terbesar sejak 2010.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 25 Desember 2020  |  13:41 WIB
Seorang warga Jepang berdiri di sudut jalan di kota Tokyo. - Bloomberg
Seorang warga Jepang berdiri di sudut jalan di kota Tokyo. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Penurunan pengeluaran penduduk akibat gelombang kedua kasus virus corona membuat kota Tokyo, Jepang, mencatat deflasi pada bulan Desember 2020.

Data Badan Statistik Jepang pada Jumat (25/12/2020) mencatat indeks harga konsumen (IHK) Tokyo tercatat turun 1,3 persen pada bulan Desember 2020. Sementara itu, IHK inti, yang tidak termasuk makanan segar turun 0,9 persen, terbesar sejak 2010.

Angka ini menunjukkan penurunan yang lebih dalam dalam tren harga nasional yang diawasi ketat oleh Bank of Japan.

Bank Sentral Jepang tersebut pekan lalu menyerukan peninjauan kebijakannya sehingga lebih berkelanjutan, mengingat pandemi kemungkinan membutuhkan stimulus yang lebih lama.

Sementara itu, data terpisah dari Kementerian Ekonomi Jepang mencatat penjualan ritel nasional turun 2 persen pada November dari bulan sebelumnya dan 0,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Penurunan ini sebagian besar ditopang oleh turunnya pembelian pakaian. Angka ini juga lebih dalam dibandingkan proyeksi analis yang memperkirakan penurunan 0,8 persen.

Data hari Jumat bisa menjadi indikasi pertama dari pelemahan belanja konsumen, yang merupakan pendorong utama rebound ekonomi Jepang yang merosot akibat pandemi.

Tren ini cenderung memburuk karena virus telah menyebar dengan cepat di Jepang sejak paruh kedua November, dengan kasus baru yang dikonfirmasi meningkat di atas 3.000 dalam dua hari terakhir.

“Mengingat penyebaran virus saat ini, pemerintah harus mengesampingkan pemikiran pemulihan untuk saat ini,” kata ekonom Itochu Research Institute, Atsushi Takeda, seperti dikutip Bloomberg.

Kasus virus yang tercatat bulan ini memaksa Perdana Menteri Yoshihide Suga untuk menangguhkan program insentif perjalanan selama liburan Tahun Baru dan para pemimpin daerah bahkan meminta orang tua untuk memakai masker di rumah.

Langkah tersebut, yang dibarengi dengan meningkatnya kekhawatiran individu, akan menekan bisnis restoran, hotel, dan toko selama musim belanja penting.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi ekonomi jepang

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top