Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PLN Masih Kaji Rencana Subtitusi PLTU Suralaya Pakai EBT

PLTU Suralaya merupakan pembangkit tua yang biaya pokok produksinya murah.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 23 Desember 2020  |  20:58 WIB
PLN mengoperasikan Gardu Induk (GI) Wayame berkapasitas 2 x 30 Mega Volt Ampere (MVA). Istimewa - PLN
PLN mengoperasikan Gardu Induk (GI) Wayame berkapasitas 2 x 30 Mega Volt Ampere (MVA). Istimewa - PLN

Bisnis.com, JAKARTA -- PT PLN (Persero) masih mengkaji potensi penggantian PLTU Suralaya dengan pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan (EBT).

Direktur Bisnis Regional Jawa, Madura, dan Bali PLN Haryanto WS mengatakan, PLTU Suralaya merupakan pembangkit strategis bagi PLN. Hal ini karena PLTU Suralaya merupakan pembangkit tua yang biaya pokok produksinya murah.

"Pembangkit yang sudah lama, tapi secara aset itu nilainya sudah mendekati nol sehingga biaya pokok produksinya murah," ujar Haryanto saat ditemui, Rabu(23/12/2020).

PLN masih mengkaji rencana pengembangan ke depan PLTU yang sudah berusia lebih dari 25 tahun tersebut.

"Sampai saat ini, kami belum putuskan bagaimana pengembangan PLTU Suralaya ke depan, khususnya unit 1-4," kata Haryanto.

Sebelumnya, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Harris mengatakan bahwa PLTU Suralaya berpotensi diganti dengan pembangkit EBT.  

PLTU yang memiliki tujuh unit pembangkit dengan kapasitas total 3,4 gigawatt (GW) itu merupakan salah satu PLTU tertua dan terbesar di Indonesia.    

"Mengonversi pembangkit yang sudah tua, seperti PLTU Suralaya.  Sekarang umurnya 36 tahun, 4 tahun ke depan sudah 40 tahun.  Kalau masih dipertahankan dampak ke lingkungannya, cost production," ujar Harris dalam sebuah webinar, Senin (14/12/2020).

Menurut Harris, dalam draf RUPTL PLN 2021-2030 terdapat empat unit pembangkit PLTU Suralaya dengan total kapasitas 1,6 GW akan dipensiunkan pada 2028, yakni unit 1 dan 2 (2x400 MW) yang beroperasi sejak 1984, serta unit 3 dan 4 (2x400 MW) yang beroperasi sejak 1989.

Total kapasitas PLTU 1,6 GW tersebut berpotensi dapat digantikan dengan 1,6 GW pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), 1,6 GW pembangkit listrik tenaga air (PLTA), atau dengan 7,74 GW pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan 3,097 GW baterai.  

Dalam materi paparan Harris, konversi PLTU Suralaya ke pembangkit EBT menghadapi sejumlah kendala.  Beberapa diantaranya adalah phase out pembangkit tidak bisa dipercepat karena pembangkit unit 1 dan unit 2 diagunkan hingga 2025 dan saat ini, proyek PLTU Suralaya unit 9 dan 10 (2x1.000 MW) masih berjalan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN
Editor : Muhammad Khadafi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top