Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Udang Ditarget Melejit 250 Persen, Begini Cara Mencapainya

Ekspor udang ditargetkan meningkat 250 persen dalam empat tahun mendatang. Pemerintah pun telah meracik sejumlah langkah pencapaian. Apa saja?
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 14 November 2020  |  20:45 WIB
Tambak Udang. Prinsip klaster budidaya udang adalah pengelolaan usaha budidaya udang dalam satu kawasan dengan manajemen teknis dan usaha yang dikelola secara bersama dengan tujuan meminimalkan kegagalan dan meningkatkan produktivitas, namun tetap ramah terhadap lingkungan.  - KKP
Tambak Udang. Prinsip klaster budidaya udang adalah pengelolaan usaha budidaya udang dalam satu kawasan dengan manajemen teknis dan usaha yang dikelola secara bersama dengan tujuan meminimalkan kegagalan dan meningkatkan produktivitas, namun tetap ramah terhadap lingkungan. - KKP

Bisnis.com, JAKARTA - Ekspor udang ditargetkan meningkat 250 persen dalam empat tahun mendatang. Pemerintah pun telah meracik sejumlah langkah pencapaian. Apa saja?

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan pemerintah mendorong pembangunan sektor perikanan budidaya, dengan mandat ataupun tugas meningkatkan nilai ekspor udang sebesar 250% pada 2024.

“Tentu saja kami di KKP khususnya di Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mohon masukan-masukan dan saran-saran dari semua pihak untuk bersama-sama membangun sektor ini,” katanya seperti dikutip dalam keterangan pers, Sabtu (14/11/2020).

Untuk itu, pihaknya telah menggelar Konsultasi Publik bertema Revitalisasi Tambak Udang untuk Mencapai Target Peningkatan Produksi Udang Nasional, Kamis (12/11/2020) guna memastikan semua stakeholder terlibat dalam peningkatan nilai ekspor udang 250% pada 2024.

Menurut Slamet, KKP tidak bisa berjalan sendiri sehingga membutuhkan dukungan jajaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten, serta stakeholder lainnya seperti kalangan asosiasi, para akademisi, praktisi dan lainnya.

“Semuanya harus bersatu untuk bersama-sama bersinergi dalam peningkatan produksi udang ataupun pembangunan perudangan nasional ke depan,” tambahnya.

Dia mengatakan pencapaian target ekspor udang tersebut akan diwujudkan dengan pembangunan kawasan tambak melalui model klaster. Prinsip klaster adalah pengelolaan usaha budidaya udang dalam satu kawasan dengan manajemen teknis dan usaha yang dikelola secara bersama dengan tujuan meminimalkan kegagalan dan meningkatkan produktivitas, namun tetap ramah terhadap lingkungan.

“Kenapa kita harus membuat klaster ataupun kawasan tambak udang ini, karena dengan satu kawasan tambak udang akan mempermudah manajemen kawasan berbasis kepada lingkungan. Di samping itu juga mempermudah dalam pembinaan, termasuk juga penguatan permodalan dan lainnya,” jelas Slamet.

Slamet juga menekankan bahwa ke depannya kawasan tambak udang ini dapat diintegrasikan dengan konsep silvofishery. “Dengan silvofishery kita bisa mengembangkan budidaya dengan cara polikultur secara tradisional yang terkendali yaitu polikultur dengan kakap putih, bisa kita tebarkan nila salin, rumput laut dan lainnya. Kita pastikan keberadaan mangrove sebagai barrier yang mempertahankan lingkungan agar bisa berkelanjutan.”

REVITALISASI TAMBAK

Wakil Ketua Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan (KP2KP) Bidang Sinergi Dunia Usaha, Agnes Marcellina menyampaikan revitalisasi tambak udang termasuk di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2020 – 2024 sesuai dengan arahan dari presiden kepada Menteri Kelautan dan Perikanan untuk mengoptimalkan perikanan budidaya.

“Target dari pertumbuhan tambak udang yang tadi disebutkan Dirjen Perikanan Budidaya yaitu 2,5 kali lipat setiap tahunnya, sehingga pada tahun 2024 nanti produksi udang kita bisa mencapai 1,2 juta ton, dengan nilai produksi dari 30 triliun rupiah menjadi sekitar 90 triliun rupiah,” sebut Agnes.

“Kita boleh berbesar hati bahwa nilai ekspor udang Indonesia saat ini adalah peringkat ke 4 setelah India, Ekuador dan Vietnam,” papar Agnes.

Agnes juga menekankan dengan pembukaan kawasan tambak baru akan meningkatkan permintaan benih dan pakan. “Maka kita juga harus memikirkan ketersediaan pakan dan benih yang selama ini masih berfokus di Pulau Jawa. Dengan adanya pengembangan kawasan baru di provinsi lain, misalnya kawasan timur ada di Sulawesi Utara, Maluku atau Papua, perlu kita pikirkan juga,”tuturnya.

“Saya berharap semoga konsultasi publik ini ada komunikasi dua arah antara stakeholder, pembuat kebijakan, kemudian para pelaku usaha sehingga pada akhirnya kita bisa mendapatkan blue print atau roadmap untuk kepentingan kita bersama dan yang akan menjadi goal kita bersama,” tandas Agnes.

Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Kesejahteraan Stakeholder Kelautan dan Perikanan, Agus Somamiharja menyampaikan dalam upaya ekspor 2,5 kali lipat udang maka diperlukan peningkatan produktivitas dan merevitalisasi lahan tambak yang tersedia. “Karena dengan eksisting tambak yang telah ada maka kita sudah bisa mencapai peningkatan udang nasional yang ditargetkan,” ucapnya.

Agus juga memaparkan langkah-langkah untuk menggenjot produksi udang tambak.

Pertama, merevitalisasi tambak intensif dan semi-intensif dengan cara mempermudah akses benur berkualitas, akses infrastruktur, akses ke agen pembiayaan, akses peningkatan SDM/SOP, pembentukan kelembagaan hulu-hilir serta mempermudah perizinan dan regulasi.

Kedua, melalui revitalisasi tambak eks-plasma dengan cara meningkatkan sumber daya manusia yang berpengalaman dalam pengelolaannya, serta menjadikan tambak-tambak tersebut sebagai tambak milik rakyat. Lalu, ketiga merevitalisasi tambak tradisional dengan cara meningkatkan produktivitas dan membuat permodelan tambak klaster.

Ketiga, penerapan Sustainable Shrimp Silvofishery pada tambak milenial yang sedang dibangun oleh KKP di Jepara dan Situbondo diharapkan bisa membuat kualitas dan produksi udangnya lebih sustainable dan risiko serangan penyakit bisa diminimalkan.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo menegaskan sustainable adalah harga mati, dengan pengolahan limbah, sehingga serangan penyakit dapat diminimalisir dan tentunya target kita dalam meningkatkan produksi udang nasional dapat tercapai.

“Terkait unit pengolahan udang, lokasinya tidak harus selalu berdekatan dengan lokasi tambak udang. Sepanjang masih dalam waktu kurang lebih 48 jam dari lokasi panen hingga masuk pabrik, bagi kami masih aman dan masih memenuhi standar kualitas/mutu dari buyer dan masih kita golongkan first grade quality,” ujar Budhi.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto menyampaikan bahwa Kadin berharap kehadiran Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja bisa menciptakan sistem perizinan yang jauh lebih simpel dari sebelumnya dan Kadin juga berjuang supaya petambak tidak dikriminalisasi oleh aparat, minimal hanya didenda saja selama hanya kesalahan administrasi saja.

Yugi juga menyampaikan KKP harus terus lakukan tindakan preventif agar tidak terjadi serangan penyakit yang dapat mengganggu produksi udang nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tambak udang udang ekspor udang
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top