Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sektor Tambang Suram, Pabrikan Alat Berat Incar Perkebunan dan Konstruksi

Tren permintaan alat berat pada 2021 akan bergeser menuju sektor perkebunan dan konstruksi. Pasalnya, permintaan dari sektor pertambangan dinilai belum akan membaik pada tahun depan.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 03 November 2020  |  17:29 WIB
Alat berat merek Komatsu. Istimewa
Alat berat merek Komatsu. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Tren permintaan alat berat pada 2021 akan bergeser menuju sektor perkebunan dan konstruksi. Pasalnya, sektor pertambangan dinilai belum akan membaik pada tahun depan.

Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) mendata permintaan alat berat dari sektor konstruksi berkontribusi sekitar 40 persen dari total produksi, sedangkan sektor perkebunan sekitar 30 persen. Adapun, kontribusi permintaan dari sektor perkebunan diramalkan naik menjadi 40 persen pada 2021.

"Itu tidak bisa dipungkiri, dua sektor itu masih dominan. Kenapa perkebunan [naik 2021]? Sekarang pemerintah giat-giatnya [melakukan program] bahan bakar nabati," ujar Ketua Umum Hinabi Jamaludin kepada Bisnis, Selasa (3/11/2020).

Jamaludin menilai realisasi produksi pada 2021 akan jauh lebih baik daripada tahun ini. Pasalnya, Jamaludin mengamati mulai ada perbaikan permintaan pada November-Desember 2020.

Akan tetapi, Jamaludin saat ini khawatir lantaran peningkatan permintaan pada 2021 mengharuskan pabrikan untuk mulai menyerap tenaga kerja baru. Pasalnya, tenaga kerja industri alat berat yang sudah dilepas cenderung enggan kembali ke industri alat berat dan memilih untuk membangun usaha sendiri.

Jamalludin mendata selama 8 bulan pertama 2020 rata-rata pabrikan alat berat telah melepas sekitar 30-40 persen dari total tenaga kerjanya. Dengan kata lain, tenaga kerja pada industri alat berat telah berkurang sekitar 7.700 orang menjadi sekitar 14.300 orang.

Alhasil, pabrikan terpaksa menyerap tenaga kerja baru dan melakukan pelatihan awal sekitar 3 bulan. "Makanya kami menggunakan [program] link-and-match, itu kan bisa sebulan [pelatihannya."

Melihat adanya perbaikan permintaan pada kuartal IV/2020, Jamaludin optimistis target volume produksi hingga akhir tahun bisa mencapai 3.000 unit.

Berdasarkan data Hinabi, produksi alat berat hingga September 2020 mencapai 2.269 unit. Artinya, capaian pada Januari-September 2020 lebih rendah sekitar 50,07 persen dari rata-rata produksi periode yang sama tahun lalu.

Jamaluddin meramalkan total produksi hingga akhir 2020 hanya akan mencapai angka 3.000 unit atau lebih rendah 50,94 persen dari realisasi 2019 sebanyak 6.060 unit. Dengan kata lain, volume produksi alat berat pada tahun ini akan menjadi yang terendah sejak 2010.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alat berat perkebunan
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top