Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indeks Manufaktur Amblas, Apindo Rekomendasikan 3 Langkah Pemulihan

Penurunan indeks manufaktur pada September 2020 diduga bukan hanya karena diperlakukannya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) penuh di sejumlah wilayah. Untuk mengangkat kembali kinerja pabrikan, Apindo merekomendasikan tiga langkah.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  16:30 WIB
Aktivitas di pabrik fabrikasi baja PT Waskita Karya Infrastruktur, Cikande. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi 4.000 ton per bulan. - istimewa
Aktivitas di pabrik fabrikasi baja PT Waskita Karya Infrastruktur, Cikande. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi 4.000 ton per bulan. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Penurunan indeks manufaktur pada September 2020 diduga bukan hanya karena diperlakukannya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) penuh di sejumlah wilayah. Untuk mengangkat kembali kinerja pabrikan, Apindo merekomendasikan tiga langkah.

"Kami mengusulkan setidaknya tiga langkah yang harus diambil pemangku kepentingan untuk meningkatkan kinerja pabrikan," kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani kepada Binsis, Kamis (1/10/2020).

Pertama, pengendalian penyebaran Covid-19, khususnya di kawasan-kawasan industri. Hal itu penting agar pabrikan bisa tetap produktif.

Seperti diketahui, pabrikan harus menghentikan proses produksi selama beberapa hari jika ditemukan ada tenaga kerja yang positif terjangkit Covid-19. Selain itu, pengendalian Covid-19 dapat meningkatkan kepercayaan diri konsumen untuk melakukan konsumsi.

Kedua, harus ada perbaikan dan percepatan distribusi stimulus korporasi. Shinta mendata saat ini stimulus yang dijanjikan pemerintah masih belum tersalurkan kepada pelaku industri.

Shinta menekankan distribusi stimulus tersebut harus didahulukan pada industri padat karya, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), furnitur, dan alas kaki. Menurutnya, percepatan distribusi tersebut penting agar tidak terjadi PHK massal dan pabrikan dapat bertahan melewati pandemi Covid-19.

Ketiga, perlu dukungan percepatan pengesahan rancangan undang-undang (RUU) Cipta Kerja. Menurutnya, hal tersebut akan mengeksplorasi realisasi investasi di sektor manufaktur.

"Dengan demikian sektor manufaktur nasional memiliki lebih banyak modal dan confidence untuk melakukan produksi meskipun pemulihan pasar belum mengejar economic of scale yang terlalu menguntungkan dalam jangka pendek," katanya.

Hasil survei IHS Markit Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia menunjukkan bahwa industri manufaktur di Indonesia pada September 2020 kembali menurun dari bulan sebelumnya.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari IHS Markit menurun empat poin dari sebelumnya di level 50,8 pada Agustus 2020 menjadi 47,2 pada September 2020.

Shinta menilai penurunan PMI nasional ke level 47,2 murni disebabkan oleh melemahnya pasar dalam jangka pendek. Apindo menilai menurunnya angka PMI dari posisi 50,08 per Agustus disebabkan oleh kombinasi PSBB, dan lemahnya pemulihan pasar domestik.

"Selama pelonggaran PSBB terjadi peningkatan konsumsi, tetapi tidak setinggi yang diharapkan. [Hal tersebut terjadi] khususnya karena kelas menengah enggan melakukan pengeluaran non-esensial karena kondisi [pandemi] Covid-19," kata Shinta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks manufaktur Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top