Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kompetensi Manajemen Rantai Pasok untuk SDM Maritim Perlu Digenjot

Kompetensi SCM ini perlu untuk bisa memahami dan menganalisis proses secara end-to-end dalam peningkatan efisiensi biaya logistik perusahaan maupun nasional.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 20 September 2020  |  14:07 WIB
Kompetensi Manajemen Rantai Pasok untuk SDM Maritim Perlu Digenjot
Pelaut Indonesia - Ilustrasi/velasco indonesia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kemampuan sumber daya manusia terkait dengan Supply Chain Management (SCM) atau manajemen rantai pasok untuk mendukung pengembangan logistik di sektor maritim perlu ditingkatkan seiring dengan pentingnya sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan sektor maritim memegang peranan dan tantangan yang sangat penting bagi Indonesia. Di samping karena sekitar 2/3 wilayahnya terdiri dari laut, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan sekitar 17.500 pulau.

"Sementara, peranan transportasi laut masih rendah yang bisa dilihat dari kontribusinya terhadap PDB. Pada 2019, transportasi laut berkontribusi hanya sekitar 6,94 persen. Transportasi darat mendominasi dengan kontribusi sekitar 53,64 persen, diikuti transportasi udara sebesar 35,37 persen," ujarnya, Minggu (20/9/2020).

Untuk meningkatkan peranan dan menghadapi tantangan sektor maritim, para pelaku usaha dan pemangku kepentingan harus memahami Supply Chain Management (SCM) atau manajemen rantai pasok.

Kompetensi SCM ini perlu untuk bisa memahami dan menganalisis proses secara end-to-end dalam peningkatan efisiensi biaya logistik perusahaan maupun nasional.

Pemahaman terhadap proses dan biaya logistik harus secara menyeluruh, tidak secara parsial. Dengan mengacu analisis INSA dan Pelni, misalnya, distribusi biaya logistik terbagi atas biaya transportasi laut (19 persen), biaya di pelabuhan asal dan tujuan (31 persen), serta biaya transportasi hinterland di wilayah asal dan tujuan (50 persen).

Sebagai contoh lain, pelaku usaha harus memahami sistem dan proses yang kompleks. Misalnya, dalam proses kepelabuhanan yang menyangkut sekitar 18 instansi terkait dengan aliran barang, informasi, dokumen, dan uang.

SCM harus dipahami para pelaku dari perusahaan manufaktur sebagai pemilik barang, penyedia jasa logistik, transportasi, pergudangan, forwarder/EMKL, pelayaran, operator pelabuhan, perusahaan bongkar muat, depo kontainer, serta kementerian/lembaga terkait.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sdm rantai pasok maritim
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top