Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Tembakau 2020 Diramalkan Susut, Ini Penyebabnya

Produksi tembakau pada akhir tahun ini diprediksi akan mencapai sekitar 185.000 ton atau lebih rendah sekitar 10 persen secara tahunan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 18 September 2020  |  00:03 WIB
Ilustrasi-Petani membawa daun tembakau saat panen di persawahan Dusun Welar, Toroh, Grobogan, Jawa Tengah, Senin (7/9/2020). - Antara/Yusuf Nugroho
Ilustrasi-Petani membawa daun tembakau saat panen di persawahan Dusun Welar, Toroh, Grobogan, Jawa Tengah, Senin (7/9/2020). - Antara/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Produksi tembakau pada akhir 2020 diramalkan lebih rendah  hingga dua digit dari realisasi produksi tahun lalu. Selain itu, serapan tembakau oleh industri pengguna belum kunjung meningkat.

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada akhir tahun ini akan mencapai sekitar 185.000 ton atau lebih rendah sekitar 10 persen secara tahunan.

Penurunan tersebut dinilai dipengaruhi oleh curah hujan dan angin yang tinggi saat tembakau membutuhkan terik matahari pada ujung masa tanam.

"Di Jawa Tengah sebagian produksinya bagus tahun sekarang. Kalau di Jawa TImur ada penurunan, di Bali turun, dan di Jawa Barat tidak berubah. Kalau kalkulasi secara nasional agak turun [akhir 2020]," kata Ketua Umum APTI Agus Pramuji kepada Bisnis, Kamis (17/9/2020).

Agus berujar kondisi tersebut diperburuk dengan melandainya laju serapan oleh pabrikan besar karena pandemi Covid-19. Agus berujar ketatnya protokol kesehatan di kebun dan di pabrikan membuat produktivitas menurun.

Pada Januari-Agustus 2020, serapan tembakau oleh pabrikan besar baru mencapai 40 persen dari total panen. Agus menilai serapan tembakau oleh pabrikan dapat lebih tinggi lagi lantaran kebutuhan tembakau oleh pabrikan mencapai sekitar 300.000 ton per tahun.

Menurutnya, penurunan produksi di pabrikan rokok tetap akan membuat seluruh produksi tembakau nasional dapat diserap pabrikan. "Secara logika harusnya [hasil produksi] petani tembakau terserap dengan bagus dan harga layak."

Seperti diketahui, pasokan tembakau lokal masih belum dapat memenuhi kebutuhan industri rokok di dalam negeri. Penyebabnya, ada beberapa varietas tembakau yang tidak diproduksi di dalam negeri dan berkurangnya pasokan salah satu varietas. Adapun, varietas yang mendominasi impor tembakau pada umumnya adalah Virginia, White Burley, dan Oriental.

Impor tembakau jenis White Burley dan Oriental memang diperlukan mengingat petani tembakau lokal tidak menanam varietas tersebut.

Impor tembakau Virginia dilakukan karena pasokan tembakau Virginia oleh sentra produksi tembakau tersebut di Nusa Tenggara Barat (NTB) memang berkurang.

Pengurangan pasokan disebabkan naiknya biaya pengeringan akibat penghentian subsidi minyak tanah oleh pemerintah. Adapun, pasokan tempurung kelapa sawit maupun kemiri sebagai substitusi minyak tanah sulit ditemukan di NTB.

Alhasil, luas perkebunan tembakau di NTB berkurang dari 52.000 hektare menjadi 23.000 hektare pada akhir 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tembakau
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top