Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mustika Land Fokus Brand Positioning Segmen Kelas Menengah

Manajemen Mustika Land menegaskan komitmen dan fokus dengan brand positioning hunian segmen kelas menengah. Pasar segmen menengah gemuk dan daya belinya menguat.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 12 September 2020  |  15:37 WIB
Mustika Village Sukamulya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. - Istimewa
Mustika Village Sukamulya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kebutuhan perumahan terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduknya. Sejalan dengan itu, dengan berbagai pertimbangan, Mustika Land berkomitmen dan fokus dengan brand positioning-nya pada segmen kelas menengah.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), per 30 Juni 2020 jumlah penduduk Indonesia mencapai lebih 268 juta jiwa. Besarnya jumlah penduduk ini belum diimbangi dengan penyediaan atau pasokan perumahan, hingga gap antara permintaan dan penawaran antara terus melebar.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), backlog perumahan hingga awal 2020 mencapai 7,64 juta unit.

yang terbesar kekurangan berada di segmen menengah bawah. Agaknya inilah penyebab pasar perumahan segmen menengah bawah tidak rentan terhadap krisis ekonomi, sekaligus menjawab tetap eksisnya para pemain perumahan menengah bawah, bahkan pada masa pandemi Covid-19.

David Sudjana, Chief Executive Officer PT Mustika Land, mengatakan pasar segmen menengah bawah sangat berkembang. Yang paling menarik di pasar segmen menengah adalah selain pasarnya gemuk, juga daya belinya menguat.

“Sebagian besar kelas menengah adalah tenaga kerja profesional dan kreatif yang tidak hanya menggantungkan pada pendapatan gaji. Mereka bisa meng-create bisnis sampingan seperti bisnis online dan passive income lainnya. Itulah sebabnya daya beli mereka relatif lebih baik,” kata David di Jakarta pada Sabtu (12/9/2020).

Mengutip data BPS, dia mengutarakan pasar rumah menengah sangat menarik karena pada 2020 hingga 2030 terjadi bonus demografi dan kelas menengah rata-rata usia produktif tumbuh sangat besar.

Faktor ini, menurutnya, memicu peningkatan pasar segmen properti menengah, khususnya untuk keluarga-keluarga muda yang belum memiliki rumah. Target pasar ini, lanjutnya, membeli rumah untuk dihuni, selain menjadi investasi.

Mengantisipasi hal tersebut, ujarnya, Mustika Land berkomitmen dan fokus dengan brand positioning-nya pada segmen kelas menengah.

David memerinci di antara proyek yang sedang digarap di segmen ini adalah Mustika Park Place, Mustika Golf Residence, dan Mustika Taman Sari yang bermain di-range harga Rp400 jutaan hingga Rp800 jutaan.

“Untuk kelas yang lebih terjangkau, kita menggarap Mustika Village Sukamulya di Cikarang dan Mustika Village Karawang,” tuturnya.

Menurut David, produk rumah di segmen menengah dan bawah memiliki tantangan tersendiri, karena pengembang perlu jeli menciptakan keseimbangan antara harga jual, desain, dan fasilitas yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat.

Dalam pandangannya, gaji masyarakat Indonesia rata-rata kalah cepat dibandingkan dengan kenaikan harga rumah. Dengan demikian, kalau dilihat dari ukuran luas rumah yang sanggup dibeli masyarakat, dari tahun ke tahun semakin kecil.

Dia mengisahkan bahwa setiap pengembangan proyek Mustika Land dimulai dengan sebuah cerita, baik pengembangan perumahan maupun properti komersial.

“Kami memulai setiap proyek dengan menggagas ide-ide bermanfaat yang dapat memengaruhi perbaikan gaya hidup penghuni dan menemukan cara terbaik untuk mewujudkannya. Ini yang menjadi passion kami dalam merencanakan pengembangan setiap proyek,” ujar David.

Jadi, lanjutnya, Mustika Land percaya bahwa produk yang baik dirumuskan melalui keseimbangan proporsi antara fungsionalitas, kualitas, keberlanjutan, dan keterjangkauan harga.

Selain rumah menengah, kata David, Mustika Land juga memasarkan rumah-rumah dengan harga terjangkau dengan rentang nilai jual harga Rp150 jutaan hingga Rp300 jutaan.  Proyek yang digarap di segmen ini adalah Mustika Village Sukamulya di Cikarang dan Mustika Village Karawang.

Dia menegaskan walau mengembangkan segmen rumah kelas bawah, pengembangan infrastruktur dan fasilitas tetap terencana dengan baik dan bukan seadanya.

David memberi contoh proyek Mustika Village Sukamulya yang memiliki right of way (ROW) jalan luas lingkungan sebagian besar 7 meter dan membangun water treatment plant (WTP) sejak awal, sehingga perumahan ini tidak terasa seperti rumah subsidi.

Perumahan Mustika Sukamulya yang terdiri dari 3.300 unit rumah berbagai tipe, mulai 27/60 (Magnolia) dengan harga mulai Rp150 jutaan dan 30/60 (Marigold) dengan harga mulai Rp190 jutaan, dilengkapi dengan area komersial berupa ruko untuk mendukung aktifitas warga perumahan.

Sebagai kawasan hunian berwawasan lingkungan, Mustika Sukamulya dilengkapi taman hijau seluas 3.300 m2, danau hampir 0,5 hektare, fasilitas pengolahan air bersih (WTP), lebar jalan utama (ROW) 14 meter, serta keamanan 24 jam.

Mustika Land juga membangun proyek serviced apartment homes dengan 15 lantai, Mustika Golf Residence, yang berlokasi di jantung kawasan Jababeka, Cikarang.

Apartemen ini dikelola dengan dilengkapi staf Jepang, restaurant cafe Jepang autentik, Onsen, gym, dan banyak lainnya yang sedang melayani banyak ekspatriat Jepang yang bekerja di area Cibitung dan Cikarang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top