Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tiga Bulan Berturut-turut, Inflasi AS Naik pada Agustus

Departemen Tenaga Kerja mencatat indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik 0,4 persen dari bulan sebelumnya (month on month/MoM). Pada bulan Juli, CPI mengat 0,6 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 September 2020  |  20:02 WIB
Warga berjalan di sekitar Times Square saat beberapa layar bercahaya biru sebagai bagian dari inisiatif
Warga berjalan di sekitar Times Square saat beberapa layar bercahaya biru sebagai bagian dari inisiatif "Light It Blue" untuk menghormati tenaga kesehatan, saat penyebaran penyakit virus corona (Covid-19) di New York, Amerika Serikat, Kamis (23/4/2020)./Antara - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Inflasi Amerika Serikat meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut pada Agustus 2020. Hal ini menandakan tren pulihnya perekonomian dari tekanan pandemi.

Berdasarkan data Bloomberg, Departemen Tenaga Kerja mencatat indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik 0,4 persen dari bulan sebelumnya (month on month/MoM). Pada bulan Juli, CPI mengat 0,6 persen.

CPI bulan Agustus dalam median survei Bloomberg terhadap para ekonom sebelumnye memperkirakan kenaikan 0,3 persen. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/YoY), CPI AS meningkat 1,3 persen, setelah kenaikan 1 persen pada bulan Juli.

Sementara itu, CPI Inti yang tidak termasuk harga makanan dan bahan bakar yang tidak stabil, yang dipandang oleh pembuat kebijakan sebagai pengukur tren harga yang lebih andal, tercatat meningkat 0,4 persen (MoM).

Pada bulan Juli, CPI inti mencatatkan penguatan 0,6 persen (MoM), yang terbesar dalam hampir tiga dekade. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, inflasi inti naik 1,7 persen pada Agustus.

Kenaikan harga konsumen mencerminkan kenaikan yang stabil terhadap permintaan barang dan jasa sejak tindakan lockdown untuk menahan penyebaran virus corona awal tahun ini. Ini menunjukkan inflasi secara bertahap kembali ke laju sebelum krisis.

Pada bulan-bulan awal pandemi, harga tiket pesawat dan hotel jatuh saat warga AS harus tinggal di rumah. Tetapi ketika ekonomi telah dibuka kembali, permintaan secara bertahap meningkat.

Selain mobil bekas, biaya asuransi kendaraan bermotor, pakaian jadi, dan tiket pesawat juga naik dari bulan sebelumnya. Pendidikan, yang menunjukkan penurunan pertama sejak tahun 1993, termasuk dalam kategori yang menurun. Uang sekolah dan biaya kuliah turun 0,7 persen, terbesar sejak 1978, karena banyak sekolah beralih ke pembelajaran online.

Bahkan dengan kenaikan harga inflasi baru-baru ini, Federal Reserve telah tekanan inflasi mulai berkurang dan berencana mempertahankan suku bunga mendekati nol di masa mendatang.

Selain itu, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan akhir bulan lalu bahwa bank sentral sekarang akan mencari target inflasi rata-rata, yang menyiratkan bahwa inflasi akan tetap dibiarkan di atas level target bank sentral dalam beberapa waktu.

Di antara sektor yang memengaruhi inflasi, jasa non energi meningkat 0,2 persen pada Agustus, sedangkan harga barang sekalin makanan dan bahan bakar naik 1 persen. Harga pakaian naik 0,6 persen, sementara harga kendaraan baru tidak berubah.

Tiket pesawat naik 1,2 persen setelah membukukan kenaikan bulanan terbesar dalam 21 tahun di bulan sebelumnya, meskipun harga tetap 23,2 persen di bawah level tahun sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as Inflasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top