Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biaya Impor Daging Sapi Naik 2 Kali Lipat, Harga di Pasar Ikut Naik?

Sepanjang semester I, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa impor daging sapi dari Australia masih mendominasi dengan volume 58.565 ton.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 08 September 2020  |  15:53 WIB
Pedagang daging sapi segar melayani konsumen, di  Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
Pedagang daging sapi segar melayani konsumen, di Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA -- Importasi daging sapi asal Australia menghadapi tantangan akibat naiknya biaya pengiriman sampai dua kali lipat.

Namun pangsa pasar yang sudah tersegmentasi di dalam negeri menyebabkan fluktuasi logistik tak menjadi soal yang besar. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) Suhandri mengemukakan biaya kirim untuk setiap kilogram daging sapi dari Negeri Kanguru biasanya hanya dibanderol US$1,4. Tetapi, karena frekuensi penerbangan yang turun selama pandemi, biaya kirim bisa mencapai US$3 per kilogram.

“Penerbangan dari Australia ke Indonesia agak sulit sehingga berimbas ke harga daging. Biasanya seminggu bisa empat kali penerbangan sekarang hanya sekali. Kami juga sering memakai penerbangan dari Taipei dan Singapura untuk mengirim,” kata Suhandri, Selasa (8/9/2020).

Dia pun menjelaskan bahwa importir tetap menahan diri untuk melakukan pemasukan daging sapi. Selain karena permintaan yang belum pulih akibat Covid-19, masuknya daging kerbau asal India turut menjadi pertimbangan lain.

Sepanjang semester I, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa impor daging sapi dari Australia masih mendominasi dengan volume 58.565 ton. Sebaliknya, impor daging kerbau dari India sampai Juni telah terealisasi sebanyak 5.124 ton.

Pada periode ini, pemerintah telah memberi penugasan impor 170.000 ton daging kerbau yang diberikan kepada tiga perusahaan pelat merah yakni Perum Bulog, PT Berdikari, dan PT Perusahaan Perdagangan.

Suhandri mengemukakan harga daging sapi beku dengan kualitas menengah ke atas yang hanya mengisi 40 persen pasar daging di dalam negeri sebenarnya tak banyak terpengaruh oleh kondisi logistik. Dia menyebutkan persaingan harga lebih banyak terjadi di tingkat pemasok di negara asal yang jumlah distributor ke Indonesia bisa mencapai 20 perusahaan.

“Di pasar daging sapi impor konsumen sudah menyadari bahwa daging sapi memang lebih mahal. Hal ini berbeda dengan 60 persen pasar industri pengolahan makanan dan segmen menengah ke bawah yang dihadapkan dengan opsi daging kerbau atau sapi,” tuturnya.

Pasar yang telah tersegmentasi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi importir daging sapi. Suhandri mengatakan penjualan ritel daging sapi secara daring tercatat naik 5 persen karena beralihnya aktivitas konsumen yang disasar.

Sementara itu, berdasarkan laporan Indonesia-Australia Red Meat & Cattle Partnership, konsumen daging sapi cenderung mengalihkan pembelian dari pasar tradisional ke supermarket dan pembelian daging sapi secara daring meningkat lebih dari 300 persen sepanjang semester I.

Dalam laporan terbarunya, Indonesia-Australia Red Meat & Cattle Partnership juga meyakini permintaan daging sapi Indonesia tetap bakal kuat terlepas dari perlambatan ekonomi.

Permintaan daging sapi tercatat turun 15 sampai 20 persen di berbagai daerah. Sementara penurunan lebih dalam sampai 60 persen terjadi di destinasi wisata akibat terbatasnya aktivitas perhotelan dan restoran.

“Meski demikian, pembelian daging di supermarket meningkat karena semakin banyak masyarakat yang memasak di rumah alih-alih makan di restoran,” tulis laporan itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor daging sapi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top