Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sri Mulyani: Impor Juli 2020 Belum Mencerminkan Pemulihan Produksi

Kinerja impor didukung oleh pertumbuhan positif barang modal serta bahan baku dan penolong yang cukup stabil pada bulan Juli 2020 ini ternyata belum memperlihatkan tren pemulihan.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  14:53 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja impor didukung oleh pertumbuhan positif barang modal serta bahan baku dan penolong pada bulan Juli 2020 ini ternyata belum mencerminkan tren pemulihan kegiatan produksi di dalam ekonomi domestik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan impor barang modal masih mampu mencetak pertumbuhan positif 6,08 persen secara month-to-month menjadi US$1,87 miliar.

Hal ini didorong oleh meningkatnya impor kapal, peralatan komunikasi, dan mesin. Tetapi, capaian ini masih menunjukkan tren pertumbuhan negatif 13,42 persen secara year-on-year.

“Kalau kita lihat pemulihan di sektor produksi masih belum menunjukkan tren yang stabil dan terus berlangsung. Mereka masih berada di tren yang sangat dini untuk melihat apakah tren perekonomian kita betul-betul berada pada zona positif,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual APBN KiTa pada Selasa (25/8/2020).  

Di sisi lain, Mantan Direktur Bank Dunia tersebut juga menunjukkan tren pemulihan impor bahan baku dan penolong yang cukup tinggi pada bulan Juni, namun kembali terkoreksi tipis menjadi US$7,22 miliar pada bulan lalu.

Realisasi tersebut menurun 2,51 persen secara month-to-month dan 33,86 persen secara year on year yang disebabkan oleh penurunan impor barang komoditas pertanian seperti gula, gandum, dan minyak nabati. Diharapkan, tekanan pada sektor ini hanya berlangsung sesaat.

Selanjutnya, impor barang konsumsi juga menunjukkan pelemahan 17,89 persen secara month-to-month dan koreksi 27,67 persen secara year-on-year menjadi US$1,32 miliar yang diakibatkan oleh turunnya impor komoditas pangan seperti gula pasir, daging unggas dan buah-buahan.

“Indikator ini lebih baik karena kita berharap banyak produk-produk substitusi barang impor untuk barang konsumsi yang bisa diproduksi di dalam negeri,” sambungnya.  

Secara keseluruhan, kinerja ekspor dan impor masih cukup baik tercermin dari neraca perdagangan bulan Juli dengan surplus yang melonjak US$3,26 miliar, sehingga menopang surplus sebesar US$8,75 miliar sepanjang tahun berjalan.

Nilai impor pada Juli 2020 mencapai US$10,47 miliar, menurun secara month-to-month sebesar 2,72 persen dan terkoreksi secara year-on-year sebesar 32,55 persen.

“Impor kita menunjukkan tren sesudah pembalikan [bulan Juni], pada bulan Juli kembali mengalami negative growth. Ini berarti trennya belum solid menunjukkan bahwa mereka berada pada zona positif,” tutupnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor sri mulyani pemulihan ekonomi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top